Takut Dipelintir Media

Li Yongbo:

Takut Dipelintir Media

- Sport
Sabtu, 08 Mei 2004 02:24 WIB
Jakarta - Kontingen manakah yang paling susah diperoleh keterangannya? Cina. Dari pemain sampai ofisial, mereka kerap pelit berkomentar setiap kali didekati dan ditanyai wartawan.Apalagi pelatih kepala Li Yongbo. Para kuli disket sering bete karena pria ini cepat sekali berkelebat pergi meskipun pertanyaan yang dilontarkan kepadanya baru satu-dua. Sombongkah atau hanya sekadar strategi?β€œTidak, ini bukan strategi,” katanya dalam bahasa Cina yang kemudian dialihbahasakan oleh penerjemahnya, baik ke dalam bahasa Indonesia maupun Inggris.β€β€œSaya hanya ingin agar wawancara dilakukan sebagaimana mestinya, dengan tertib, seperti saat ini dalam konferensi pers, sehingga jawaban yang saya berikan tidak disalahinterpretasikan oleh wartawan,” sambungnya di Media Center Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Jumat (7/5/2004) malam WIB.Ia juga mengusulkan, agar tidak terjadi kesalahan mengutip dari media massa, setiap penerjemah disumpah terlebih dahulu supaya yang diterjemahkannya tidak keluar jalur. β€œSehingga hasil tulisan yang dipublikasikan bukan asal-asalan,” tambahnya.Sementara itu, salah satu pemain ganda terbaik dunia di era 80-an bersama Tian Bingyi itu menegaskan kembali target negaranya mengawinkan gelar Piala Thomas dan Uber kali ini. β€œUntuk Uber kami sangat yakin bisa juara. Namun untuk Thomas beberapa negara lain juga punya peluang yang sama dengan kami seperti Indonesia, Malaysia, Denmark, dan Korea.”Ditanya soal resep pemain-pemain Cina yang dalam beberapa tahun terakhir ini begitu dominan, ia mengatakan prestasi tersebut dicapai melalui latihan dan kerja keras. β€œKami berharap negara-negara lain melakukan hal yang sama dengan kami, sehingga badminton terangkat di mata dunia.” (a2s/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads