Sayang, Ganda Kita Kalah

Sayang, Ganda Kita Kalah

- Sport
Sabtu, 15 Mei 2004 03:15 WIB
Jakarta - Kekalahan Simon Santoso di partai penentuan barangkali bisa dimaklumi. Yang patut disayangkan adalah kegagalan dua ganda Indonesia mengalahkan pemain-pemain Denmark.Simon, yang dimainkan di partai kelima dalam duel semifinal melawan Denmark, Jumat (14/5/2004) tengah malam WIB, tak mampu mengalahkan pemain veteran Peter Rasmussen. Tampil dengan misi harus menang, karena skor saat itu 2-2, ia kalah dua set langsung 3-15 13-15. Akibatnya, Indonesia gagal melangkah ke final Piala Thomas, setelah lima kali berturut-turut merengkuh tropi beregu putra paling bergengsi itu.Akan tetapi, rasanya berlebihan kalau Simon dijadikan kambing hitam. Bagaimanapun, remaja 18 tahun ini jam terbangnya belum tinggi. Memang rangkingnya di IBF saat ini jauh lebih tinggi ketimbang Rasmussen. Ia berada di urutan 60, sedangkan lawannya 121.Tapi dalam turnamen sebesar dan partai sepenting ini faktor pengalaman sangat berarti. Simon baru kali ini bermain di Piala Thomas, sementara Rasmussen pernah menjadi juara dunia 1997. Jadi, di mana letak kekalahan Indonesia dari Denmark itu? Dengan tanpa mengurangi penghargaan atas perjuangan mereka, jawaban pertanyaan tersebut adalah ganda. Kalau saja Flandi Limpele atau Candra Wijaya/Tri Kusharjanto bisa menang, cerita di atas bisa lain. Tapi kenyataannya, meski didukung 10 ribu penonton Istora, kedua pasangan itu gagal mengalahkan lawan-lawannya. Memang benar, dua pasangan Denmark yang tampil hari ini peringkatnya lebih baik daripada pemain-pemain Indonesia. Lars Paaske/Jonas Rasmussen adalah ganda nomor satu dunia saat ini dan Jens Eriksen/Martin Lundgaard rangking 5. Sementara ganda terbaik Indonesia, Luluk Hadiyanto/Alven Yulianto, bercokol di tempat ke-7, diikuti Flandi/Eng di posisi 8 besar.Luluk/Alven, juara Korea Terbuka bulan awal Mei lalu, tampil kurang meyakinkan sepanjang Piala Thomas kali ini, terutama Luluk. Tampaknya mereka belum bisa menghadapi pressure sebagai pemain debutan. Itu sebabnya pelatih memilih memasang Flandi/Eng sebagai ganda pertama.Terlepas dari faktor ranking, Flandi/Eng punya rekor bagus menghadapi Paaske/Rasmussen. Dari empat pertemuan mereka sebelumnya, pasangan yang pernah memperkuat Inggris itu menang tiga kali. Ditambah dukungan penonton, idealnya mereka bisa menyumbangkan poin.Tapi cerita di lapangan memang bisa berbeda. Meski mampu mengimbangi lawannya dan kalah 13-15 pada set pertama, penampilan Flandy/Eng Hian sangat menurun pada set kedua dan dengan mudah lawannya unggul 12-2 sebelum mengakhiri pertandingan 15-7.Demikian pula Candra/Trikus. Setelah menyamakan skor di set kedua dengan kemenangan 15-2 β€” di set pertama kalah 10-15 β€” penampilan ganda dadakan itu melorot di set ketiga, sebelum menyerah 4-15 dari Eriksen/Lundgaard yang belum lama ini menjadi juara Eropa.Sebelum Piala Thomas dimulai, banyak kalangan merasa kaget dengan keputusan PBSI menduetkan Candra dengan Trikus. PBSI beralasan, kedua pemain itulah yang penampilannya paling bagus saat simulasi di Bandung beberapa waktu lalu. Tentu hal ini bukanlah ajang pembuktian sesungguhnya karena dalam simulasi tersebut lawan mereka adalah sesama pemain Indonesia. Akibatnya, persiapan Candra/Trikus pun tergolong singkat. Kalau mau jujur, Candra jika dipasangkan dengan Sigit Budiarto masihlah ditakuti lawan-lawannya. Paling tidak, ada opsi lain yang bisa dikedepankan, yakni Candra/Halim Haryanto atau Trikus/Sigit. Alasannya, pasangan itu lebih sering tampil bersama.Tapi apa boleh buat, kita pun harus menghormati perjuangan mereka yang sudah berusaha keras untuk memberikan yang terbaik buat negara ini. Yang mesti dipikirkan sekarang adalah bagaimana mengembalikan kejayaan bulutangkis Indonesia. Faktanya, kita sudah tertinggal dari beberapa negara lain, baik di kelompok putra apalagi putri. Seperti kata seorang penonton, bagaimana bisa mengejar Cina kalau melawan Denmark saja sudah tak mampu. (a2s/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads