Perlu Pembenahan di Sektor Tunggal

Perlu Pembenahan di Sektor Tunggal

- Sport
Minggu, 29 Mei 2011 15:57 WIB
Perlu Pembenahan di Sektor Tunggal
Jakarta - Tim Indonesia sudah memenuhi targetnya dengan lolos ke Piala Sudirman. Namun, untuk mencapai prestasi yang lebih baik di masa depan, masih ada pembenahan yang harus dilakukan, khususnya di sektor tunggal.

Perjalanan 'Merah Putih' di Piala Sudirman tahun ini terhenti di babak semifinal. Simon Santoso dkk. takluk 1-3 dari Denmark. Meski mengecewakan, namun hasil ini sudah memenuhi target yang dicanangkan, yakni babak semifinal.

Untuk ke depannya, pembenahan mutlak harus terus dilakukan. Sektor tunggal yang kerapkali jadi titik lemah harus mendapat perhatian serius.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Secara keseluruhan memenuhi target. Tapi, masih ada pembenahan-pembehan. terutama untuk sektor tunggal. Firda (tunggal putri Adriyanti Firdasari-red) udah oke, hanya saja lawan Denmark belum maksimal," ujar mantan ratu bulutangkis Indonesia, Susi Susanti, saat berbincang dengan detikSport lewat sambungan telepon, Minggu (29/5/2011) siang.
Β 
"Untuk tunggal putra, butuh pembenahan besar, karena tidak memenuhi harapan masyarakat. Kalau dibilang, kita mau cari yang lain lagi, di bawah Simon belum ada. Belum ada pemain lain. Itu terbaik yang kita punya," lanjutnya.

"Ya pasti harapan saya sebagai mantan pemain, PBSI bisa kerja keras lagi. PR banyak untuk membenahi sektor, terutama tunggal. Karena paling memberikan hasil yang nggak maksimal," tambah peraih medali emas Olimpiade 1992 di Barcelona itu.

Susi mengaku cukup terkejut dengan performa ganda putra Alvent Yulianto Chandra/Mohammad Ahsan yang tampil luar biasa dan mengalahkan pasangan nomor satu dunia yang dimiliki Denmark, Carsten Mogensen/Mathias Boe.

"Saya senang sekali karena Alvent dan Ahsan bisa mengalahkan lawannya yang nomor satu dunia. Alvent dan Ahsan main luar biasa sekali. Terlihat sekali Alvent bisa membimbing Ahsan," puji Susi.

Istri Alan Budikusuma ini juga berharap PB PBSI lebih telaten dalam membina pemain agar proses regenerasi pemain bisa berjalan maksimal. Dia juga berharap para pemain senior mau kembali ke pelatnas dan membimbing adik-adiknya.

"Regenarasi harus terus, pembinaan harus berkesinambungan. Pembinaan nggak ada yang instan dan butuh waktu yang panjang. Membentuk pemain itu susah. Banyak faktor yang membuat bulutangkis Indonesia kurang cepat (berkembang)," tuturnya.

"Alangkah baiknya kalau kita bersatu karena sekarang ini masih ada yang luar dan di dalam (pelatnas). Pemain senior itu sangat bisa membimbing pemain muda. Terutama, latihan sparring partner. Kalau lihat Jepang bisa makin kuat, itu karena mereka sewa pemain-pemain kita untuk sparring partner," tutup Susi.

(mfi/rin)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads