Julukan "bunga emas" itu hadir setelah Li Na, bersama Zheng Jie sukses melaju ke semifinal Australia Terbuka tahun 2010. Itu adalah kali pertama Negeri Tirai Bambu menempatkan wakilnya di babak semifinal Australia Terbuka.
Waktu terus berlalu. Li Na semakin bersinar. Tahun ini, dua final kejuaraan Grand Slam berhasil dijejak oleh petenis berusia 29 tahun tersebut yakni Australia Terbuka dan Prancis Terbuka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Li Na memenangi final Prancis Terbuka yang berlangsung Sabtu (4/6/2011) malam WIB usai mengalahkan juara bertahan Francesca Schiavone lewat pertarungan dua set.
Ia menjadi petenis pertama asal Asia yang berhasil memenangi turnamen Grand Slam di nomor tunggal. Ada pun untuk China, Li Na berhasil mengukir kembali kisah sukses negaranya di Grand Slam, setelah di tahun 2006 ganda putri Yan Zi/Zheng Jie juara di Wimbledon.
"Saya pikir semua yang ada di China akan sangat bersemangat. Saya sempat nervouz namun saya tak ingin menunjukkan itu di hadapan lawan saya," ujar Li Na selepas final seperti dilansir dari CNN.
Pujian pun diberikan oleh Schiavone kepada Li Na. "Dia bermain bagus. Saya tidak mampu mengalahkan dia dari baseline. Satu harus kalah, satu harus menang di laga ini. Dia layak untuk menang. Tak diragukan lagi, dia adalah pencetak sejarah," kata petenis asal Italia itu di Reuters.
(nar/din)











































