Final Paling Gaduh Ada di Depan Mata

Wimbledon

Final Paling Gaduh Ada di Depan Mata

- Sport
Kamis, 30 Jun 2011 09:49 WIB
Final Paling Gaduh Ada di Depan Mata
London - Final paling gaduh berpotensi terjadi di Wimbledon tahun ini. Skenario dari pertandingan tersebut adalah Maria Sharapova kontra Victoria Azarenka.

Baik Sharapova dan Azarenka kini sama-sama sudah berada di semifinal. Satu hadangan lagi harus mereka lalui sebelum menggenggam tiket laga puncak.

Si petenis Rusia bertemu kuda hitam Sabine Lisicki. Sementara si petenis Belarusia berjumpa Petra Kvitova.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Andai Sharapova dan Azarenka berhasil melalui babak semifinal dan bertemu di laga puncak, maka kemungkinan besar akan terjadi partai final paling gaduh di sepanjang sejarah Wimbledon.

Kedua petenis itu memiliki suara lenguhan yang cukup keras. Terlebih lagi dalam tenis, penonton hanya diizinkan bersorak atau bertepuk tangan pada momen-momen tertentu. Jadilah lenguhan Sharapova dan Azarenka menjadi suara yang paling dominan dalam pertandingan tersebut.

Dilansir dari Telegraph, kegaduhan yang ditimbulkan oleh Sharapova bisa mencapai 103,2 desibel atau lebih "berisik" dibanding suara sepeda motor atau mesin pemotong rumput.

Tahun lalu lenguhan Sharapova bahkan mencapai 103,7 desibel yang setara dengan suara yang ditimbulkan oleh pesawat kecil ketika mendarat. Rekor tertinggi petenis jelita itu adalah 105 desibel yang dia catat dua tahun silam.

Ada pun seperti dikutip dari Reuters, Azarenka mencatat angka 95 desibel ketika dia menghadapi Iveta Benesova di babak kedua. Angka tersebut seperti suara yang ditimbulkan kereta bawah tanah.

Sebagai perbandingan, level suara yang ditimbulkan ketika orang berbincang-bincang secara normal adalah 60 hingga 70 desibel. Sementara itu suara dengan kekuatan lebih dari 90 desibel berpotensi menimbulkan gangguan pendengaran.

Lenguhan yang dilakukan oleh para petenis mendatangkan keluhan baik dari penonton mau pun mantan petenis.

Penonton berpendapat hal tersebut dinilai mengganggu kenikmatan menyaksikan pertandingan. Sementara sejumlah mantan petenis menilai lenguhan yang terlalu keras bisa melemahkan konsentrasi lawan.

Namun begitu baik Sharapova mau pun Azarenka memiliki pembelaan terhadap tindakan mereka.

"Saya butuh tenaga lebih untuk bisa memukul bola melewati net. Saya pikir lenguhan itu adalah bagian dari proses saya bernapas, bagian dari pergerakan tubuh," ujar Azarenka dilansir dari This is London.

"Tubuh kita seperti mesin, menimbulkan suara. Tindakan itu bukan bermaksud untuk menjatuhkan seseorang. Anda bisa lihat atlet angkat besi, ketika mereka mengangkat halter maka mereka berseru. Saya pikir di angkat besi tak banya yang mengeluhkan itu."

Sementara itu Sharapova mengatakan bahwa sebenarnya dia juga tidak suka dengan lenguhan tersebut. Namun petenis yang biasa dipanggil Masha itu mengatakan sulit bagi dia menghentikannya.

"Sebab saya sudah melakukan itu sejak usia empat tahun. Saya sendiri tidak senang ketika melihat tayangan ulang pertandingan saya di televisi, namun tindakan itu terjadi secara otomatis," klaimnya.

Masalah lenguhan mulai mengemuka pada tahun 1992, di mana ketika itu pelaku-nya adalah Monica Seles. Petenis yang di sepanjang karirnya meraih sembilan gelar Grand Slam ini sempat dijuluki "Moan-ica", di mana moan sendiri berarti erangan.

Lenguhan Seles tercatat mencapai 93,2 desibel di perempatfinal Wimbledon 1992 di mana angka tersebut setara dengan suara mesin diesel. Selanjutnya petenis Amerika Serikat kelahiran Yugoslavia itu diperintahkan untuk stop melenguh di final menghadapi Steffi Graf. Hasilnya Seles takluk di laga puncak.


(nar/krs)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads