Bukti paling nyata adalah di sektor tunggal. Di nomor tunggal putra, hingga kini belum ada pemain muda yang bisa menyamai level Taufik. Jangankan emas olimpiade, untuk sekadar memenangi turnamen Super Series saja masih jarang yang bisa melakukannya.
Di nomor tunggal putri, kondisinya juga tak jauh berbeda. Sejak era Susi Susanti berakhir, belum ada pemain Indonesia lain yang bisa menyaingi kedigdayaan para pemain China.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau nggak peduli saya mungkin nggak akan mendirikan lapangan bulutangkis. Saya sangat sedih dengan lambatnya regenerasi," kata Taufik di Kompleks Pondok Bambu Permai, Jakarta Timur, Sabtu (30/7/2011).
"Mudah-mudahan ke depannya lebih baik lagi. Semoga nanti yang di tim nasional dari tempat saya sendiri (THA-red). Di tempat saya ini kan hanya untuk sementara. Nanti ujung-ujungnya kan ke pelatnas juga," tambahnya.
"Kita hanya memandu saja. Tidak mungkin selamanya mereka di situ. Kita juga ingin mereka masuk tim nasional. Saya sendiri akan bangga kalau melihat didikan tempat saya masuk tim nasional," sambung Taufik.
"Sebenarnya kita tidak kekurangan bibit-bibit muda. Tapi, saya tidak tahu mengapa tidak ada yang sampai benar-benar menonjol. Saya kurang tahu masalahnya di mana, apa di pembinaannya atau di mana," kata pemain 29 tahun ini.
"Dengan mendirikan THA, saya ingin tahu sendiri. Suatu saat saya akan berhenti main juga, jadi saya akan tahu sendiri dengan terjun langsung," pungkas dia.
(mfi/arp)











































