Selain China, pebulutangkis Korea Selatan, Denmark, serta Jepang, diyakini akan memberikan perlawanan sengit kepada tuan rumah yang akan menurunkan 143 atlet, termasuk andalan tunggal putra Taufik Hidayat.
"Kekuatan ketiga negara itu (Korsel, Denmark dan Jepang), menjadi kekuatan baru bulutangkis dunia setelah China," kata Wakil Ketua Umum II PB PBSI I Gusti Made Oka kepada detikSport.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sama halnya di turnamen di Kaltim yang dimulai besok. Kalau bicara peluang, mereka-mereka dari negara yang saya sebutkan itu adalah kelasnya Super Series, bukan kelas Grand Prix," ujar Oka.
"Tidak bisa dipungkiri. Pesatnya olahraga bulutangkis di luar Indonesa, hampir di semua kelas tunggal putra, tunggal putri, dobel putra dan putri dan campuran," tambah Oka.
Oka merinci, untuk tunggal putri Indonesia yang masih mengandalkan Fransisca dan Maria Febe, akan kesulitan menyabet medali emas mengingat saingan terberat datang dari Jepang dan China.
"Tunggal dan ganda putra ada peluang. Untuk campuran juga ada peluang," sebut Oka.
Sedangkan di ganda putri adanya duet Vita Marissa dan Nadya Melati, juga cukup memberikan harapan kontingen Indonesia, meski diberbagai kejuaraan sebelumnya, Jepang mendominasi di partai ganda putri.
Peluang Indonesia di tunggal putra, semakin lebar setelah Chen Long, pebulutangkis andalan China dipastikan urung tampil di turnamen kali ini. Absennya Chen Long, menyusul ketidakhadiran Lin Dan, yang juga andalan China.
"Diinformasikan oleh manajer kontingen China kepada saya, Chen Long masih cedera di lengan kirinya," kata Ketua Pertandingan Mimi Irawan.
(roz/roz)











































