Pengamatan detikSport, Comment Wall sudah dipajang panitia sejak dimulainya turnamen, 27 September 2011 lalu. Hingga partai final Minggu (2/10/2011), tertera ribuan komentar masyarakat terkait penyelenggaraan turnamen kali kedua yang digelar di Samarinda, Kaltim. Bahkan, salah satu penonton rela datang dari Medan, Sumatera Utara, khusus untuk nonton idolanya, Taufik Hidayat.
"Saya sudah sejak Sabtu (1/10/2011) kemarin di sini (Samarinda), nonton Taufik. Tidak apa-apa dia kalah. Dia tetap idola saya," ujar Magdalena kepada detikSport, salah seorang penonton babak final usai menuliskan komentarnya di dinding komentar, Minggu (2/10/2011) sore WITA.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yah, kurang greget. Nggak ada Lin Dan. Lee Chong Wei juga nggak ada. Nggak seru deh. Saya ke sini cuma jalan-jalan aja," celetuk Irfan, salah seorang pelajar di Samarinda.
Gagalnya Taufik melaju ke final juga menjadi sorotan penulis di dinding komentar. Pernyataan mereka beragam, namun umumnya menyayangkan kekalahannya di partai semifinal saat melawan Tommy Sugiarto.
"Payah, Taufik kalah dari Tommy. Mainnya kayaknya tidak serius. Masak bisa kalah," ujar Melati, pelajar lainnya.
Mahalnya harga tiket final yang dijual mulai dari Rp 125.000 yang dijual panitia, juga menjadi yang paling banyak dikeluhkan. Mereka yang mengeluhkan, selain masyarakat umum, juga dari kalangan remaja yang berusia sekolah.
"Mahal nih tiket finalnya. Maunya sih kalau pelajar, diberi diskon. Supaya kita bisa ramai-ramai nonton," ujar Melati.
"Mau ngeruk keuntungan yang sebanyak-banyaknya kali panitianya. Masak ekonomi harganya Rp 125.000? Kirain Rp 50.000 sampai Rp 100.000," celetuk warga lainnya saat berada di area dinding komentar.
Selain itu, pujian juga dilayangkan kepada PB PBSI yang telah memercayakan penyelenggaraan turnamen Badminton Indonesia Open Grand Prix Gold kali kedua di Kaltim, setelah yang pertama digelar 2010 lalu.
(mfi/krs)











































