Indonesia gagal total digelaran Piala Thomas-Uber 2012 di China. Tim 'Merah-Putih' masih bisa menyelamatkan reputasinya andai bisa menjaga tradisi meraih emas di Olimpiade.
Seiring dengan terpuruknya prestasi Indonesia di Wuhan -- disingkirkan Jepang 2-3 di perempatfinal, baik tim Thomas maupun Uber --, kini publik mulai meragukan tradisi emas di Olimpiade itu bisa terus berlanjut.
Sejak cabang bulutangkis dipertandingkan di Olimpiade 1992, Indonesia tak pernah absen menyabet medali emas di ajang terbesar dunia itu. Dimulai dengan Susi Susanti dan Alan Budikusuma di Barcelona 1992, emas terakhir disumbangkan pasangan Markis Kido/Hendra Setiawan di Beijing 2008.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain gagal di turnamen beregu (Thomas-Uber), prestasi Indonesia di kejuaraan perorangan pun rendah. Dari empat kompetisi berlevel SuperSeries di tahun ini, dari maksimal 20 gelar, hanya dua yang dimenangi wakil-wakil Indonesia, yaitu ganda campuran Tontowi Ahmad/Lilyana Natsir di All Englad dan India Super Series.
"Mohammad Ahsan/Bona Septano masih belum spektakuler. Belum pernah meraih gelar Superseries, juara dunia, atau yang lainnya," ungkap Christian menganalisis kekuatan pemain-pemain pelatnas Cipayung saat ini.
"Satu nomor paling potensial untuk meraih emas adalah dinomor ganda campuran karena Lilyana/Tantowi sudah membuktikannya di dua turnamen superseries tahun ini," tandasnya.
(a2s/roz)











































