Total ada 320 relawan yang diperbantukan di Wuhan Sports Gymnasium Center, Wuhan, China, sepanjang gelaran Piala Thomas-Uber bulan ini. Mereka punya tugas beragam, meski yang utama adalah membantu siapapun pengunjung yang datang.
Pekerja media boleh jadi yang paling beruntung dengan kehadiran mereka. Sebabnya satu: mereka bisa berbahasa Inggris dan paham huruf alfabet latin. Asal tahu saja, mencari alamat berbekal catatan dalam alfabet latin nyaris sia-sia di Wuhan. Penduduk umum yang kami temui tak mengerti alfabet latin dan hanya mengerti abjad China.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selama bertugas para relawan bisa dikenali dengan mudah karena mereka diberikan seragam berwarna putih bergradasi biru plus celana panjang berwarna hitam. Mereka tersebar di berbagai titik mulai gerbang hingga ke pinggir tribun penonton serta melayani pekerja media di media center.
"Kami tidak dibayar. Tapi kami dapat makan dua kali sehari, siang dan malam. Saya sendiri mulai berada di sini sejak hari Minggu kemarin dan berada di sini sampai turnamen selesai," ujar salah satu relawan bernama Wang Ying Xiao saat berbincang-bincang dengan detikSport.
"Meski begitu (tak dibayar) ini menyenangkan. Saat ini saya sedang libur, jadi ini hal yang baik buat saya," sambung Wang Ying Xiao.
Wang Ying Xiao bersama empat orang temannya bertugas di pintu masuk Wuhan Sports Gymnasium Center. Perempuan 20 tahun itu merupakan penduduk asli Wuhan dan kini tercatat masih berkuliah di Wuhan University.
Panitia memang hanya merekrut mahasiswa dan mahasiswi untuk dijadikan relawan, dengan beberapa di antaranya datang dari kota yang bersebelahan dengan Wuhan.
"Tentu saja kami menyukai badminton, saya juga menyukai Taufik Hidayat," lanjut Xiao sambil tersenyum. "Sayangnya Indonesia kalah."
(/)











































