Dibayar Makan 2 Kali, Relawan Thomas-Uber Senang-Senang Saja

Laporan dari Wuhan

Dibayar Makan 2 Kali, Relawan Thomas-Uber Senang-Senang Saja

- Sport
Jumat, 25 Mei 2012 17:27 WIB
Dibayar Makan 2 Kali, Relawan Thomas-Uber Senang-Senang Saja
detiksport/Doni Wahyudi
Wuhan - Saat bahasa menjadi kendala terbesar di China, keberadaan para relawan Piala Thomas-Uber 2012 sangatlah berharga. Bekerja dari pagi sampai malam, mereka 'rela' cuma dibayar dua kali makan.

Total ada 320 relawan yang diperbantukan di Wuhan Sports Gymnasium Center, Wuhan, China, sepanjang gelaran Piala Thomas-Uber bulan ini. Mereka punya tugas beragam, meski yang utama adalah membantu siapapun pengunjung yang datang.

Pekerja media boleh jadi yang paling beruntung dengan kehadiran mereka. Sebabnya satu: mereka bisa berbahasa Inggris dan paham huruf alfabet latin. Asal tahu saja, mencari alamat berbekal catatan dalam alfabet latin nyaris sia-sia di Wuhan. Penduduk umum yang kami temui tak mengerti alfabet latin dan hanya mengerti abjad China.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kembali ke para relawan, mayoritas dari mereka mulai beraktivitas di Wuhan Sports Gymnasium Center mulai jam 10.30 pagi. Mereka baru kembali ke rumah masing-masing jam 12 malam, atau hingga pertandingan usai.

Selama bertugas para relawan bisa dikenali dengan mudah karena mereka diberikan seragam berwarna putih bergradasi biru plus celana panjang berwarna hitam. Mereka tersebar di berbagai titik mulai gerbang hingga ke pinggir tribun penonton serta melayani pekerja media di media center.

"Kami tidak dibayar. Tapi kami dapat makan dua kali sehari, siang dan malam. Saya sendiri mulai berada di sini sejak hari Minggu kemarin dan berada di sini sampai turnamen selesai," ujar salah satu relawan bernama Wang Ying Xiao saat berbincang-bincang dengan detikSport.

"Meski begitu (tak dibayar) ini menyenangkan. Saat ini saya sedang libur, jadi ini hal yang baik buat saya," sambung Wang Ying Xiao.

Wang Ying Xiao bersama empat orang temannya bertugas di pintu masuk Wuhan Sports Gymnasium Center. Perempuan 20 tahun itu merupakan penduduk asli Wuhan dan kini tercatat masih berkuliah di Wuhan University.

Panitia memang hanya merekrut mahasiswa dan mahasiswi untuk dijadikan relawan, dengan beberapa di antaranya datang dari kota yang bersebelahan dengan Wuhan.

"Tentu saja kami menyukai badminton, saya juga menyukai Taufik Hidayat," lanjut Xiao sambil tersenyum. "Sayangnya Indonesia kalah."

(/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads