Sejak 20 Mei lalu di Wuhan Gymnasium Sport Center, digelar kejuaraan beregu bulutangkis paling bergengsi di dunia, Piala Thomas dan Piala Uber.
Ini adalah kali pertama pesta badminton dihelat di kota Wuhan, setelah China pernah menghajat Thomas-Uber 2002 di Guangzhou, serta tiga kali Piala Sudirman di Beijing (2005), Guangzhou (2009), dan Qingdao (2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Direktur Utama Wuhan Sport Center, Yi Guo Qing, mengungkapkan bahwa pihaknya memang berambisi menggelar event-event olahraga berlevel internasional.
"Itu memang 'jualan' kami, maka kami harus pandai-pandai mempromosikannya," kata pria berusia 50 tahun itu.
Selain untuk mempromosikan Wuhan, intensitas penggunakan venue-venue yang ada di kompleks stadion menjadi penting karena berdampak pada pembiayaan operasional dan pemeliharaan tempat-tempat olahraga tersebut.
Guo Qing tak ingin tiga venue yang ada, yaitu gedung olahraga, stadion utama, dan kolam renang, yang ada di kompleks Wuhan Sport Center rusak karena ketiadaan dana pemeliharaan. Nasib beberapa venue di Olimpiade 2008 di Beijing dijadikan sebagai pelajaran berharga mereka.
"Stadion ini ibarat jendela Wuhan, maka harus tetap dijaga," lanjut Guo Qing.
Wuhan Gymnasium Sport Center, misalnya, yang sedang dipakai untuk Piala Thomas-Uber, memiliki gaya futuristik, berkapasitas sampai 13 ribu penonton. Biaya sewa untuk event tersebut di stadion ini mencapai 20 juta yuan, atau hampir Rp 30 miliar, untuk 10 hari penyelenggaraan.
Selain untuk olahraga, kompleks stadion Wuhan juga bisa dipakai (baca: disewa) sebagai tempat mengadakan perhelatan lain seperti konser musik atau pagelaran budaya dan lain-lain.
Menurut Guo Qing, selain pandai-pandai venue-venue itu untuk disewakan, ada satu faktor penting yang tak bisa dilupakan, yaitu keterlibatan masyarakat.
"Mereka harus merasa memiliki kompleks olahraga ini. Saya membuka untuk umum saat tak ada turnamen besar," lanjut Guo Qing.
Salah satu upaya lain untuk terus mempromosikan Wuhan dan kompleks stadionnya itu adalah membangun lagi sebuah venue. Tahun depan mereka akan membangun lapangan tenis yang diklaim akan jadi salah satu yang termegah di Asia. Stadion itu terinspirasi sekaligus sebagai bentuk penghargaan kepada petenis juara Grand Slam Prancis Terbuka 2011 yang berasal dari kota Wuhan: Li Na.
(/)











































