Belajarlah Sampai ke Negeri Cina (Juga Jepang)!

Catatan Piala Thomas-Uber

Belajarlah Sampai ke Negeri Cina (Juga Jepang)!

- Sport
Senin, 28 Mei 2012 13:49 WIB
Belajarlah Sampai ke Negeri Cina (Juga Jepang)!
Taufik Hidayat. (AFP/Liu Jin)
Wuhan - Kekecewaan ini tak juga rampung. Rasa kaget masih juga tak selesai. Kendati tenar sebagai saudara tua, hati siapa yang rela Merah Putih dipecundangi Jepang (lagi).

Dahulu mungkin hiruk pikuk media tak secepat ini mengabarkan dunia. Tapi kini kekalahan Indonesia begitu hingar bingar di seantero jagad raya.

Ya, Jepang pernah membuat porak-poranda tanah air pada perang dunia kedua. Kini sejarah itu seperti ada di pelupuk mata. Bukan di tanah sendiri memang tapi di Wuhan Gymnasium Sport Center, Wuhan, Hubei, China, menjadi saksi bisu kekalahan tim Thomas dan Uber.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hasil akhir menunjukkan Indonesia kandas dari Jepang 2-3 dengan partai ketiga berjalan alot. Tapi tetap saja sejarah mencatat pasukan Merah Putih harus angkat koper Rabu lalu. "Kompak", kedua tim, Piala Thomas dan Uber kalah dari Jepang. Menyakitkan.

Final rampung kemarin. Cina sebagai tuan rumah berhasil mencatatkan sejarah. Tim Thomas menyamai rekor dengan Indonesia: mencetak lima gelar juara berurutan. Tim putri semakin mengukuhkan sebagai tim dengan gelar juara terpanjang.

Wang Yihan sebagai tunggal pertama sampai menitikkan air mata saking bahagianya. Pun Li Yongbo, pelatih tim nasional Cina. Yihan pantas grogi. Sebab trauma kekalahan dua tahun silam di Kuala Lumpur tak akan pudar begitu saja kendati di hari pertama putaran final Piala Thomas Uber dia mengatakan sudah lupa. Bahkan Lin Dan pun tak bisa tidur jelang babak final.

"Saya juga memiliki tugas untuk mempopulerkan bulutangkis. Maka, tugas saya bukan hanya mengantarkan pemain meraih medali tapi juga mendidik kebiasaan mereka," kata Yongbo. "Kami tim yang punya karakter," tegasnya.

Satu poin yang saya dapatkan dari Li Yongbo: "mendidik kebiasaan" untuk memunculkan "karakter". Hanya berselang tiga hari, saat pelatih Taufik Hidayat, Mulyo Handoyo, mengkritik pedas kemampuan PB PBSI mendidik kebiasaan, tentu saja pemain.

Lindaweni Fanetri dan Dionysius Hayom Rumbaka yang menjadi tunggal ketiga gagal menyumbangkan kemenangan. Di atas kertas tak seharusnya mereka kalah. Soal pengalaman keduanya lebih dulu mencicipi kejuaraan super series. Lindaweni boleh bilang baru pertama kali bersua Minatsu Mitani, tapi Hayom pernah menang. "Bukan persoalan teknik, tapi mental," kata Mulyo.

Mental itu bukan hanya didapatkan di atas lapangan. Kebiasaan itulah yang menjadi karakter. Mulyo tak menampik jika Taufik bengal. Julukan "badboy" pernah mampir. Tapi mau bilang apa, toh dia "golden boy" dengan talenta dan kejeniusan luar biasa.

Di masa emasnya tak satu pun pemain bisa menaklukkan pukulan kedut yang dimiliki pemain yang besar di SGS Elektrik Bandung itu. Selain itu Taufik juga sangat percaya diri dan memiliki kemampuan berkomunikasi yang sangat baik dengan khalayak. Dia bisa memainkan perasaan penonton juga lawan.

Rekan seprofesinya pun tak akan keberatan angkat jempol. Nyatanya tugas sebagai kepala suku pelatnas tak luntur kendati dia bukan lagi warga Cipayung. Soal kebiasaan ini, kepemimpinan Taufik, Mulyo sudah mengasah sejak mereka bersama di pelatnas 1997 lampau. Saat Taufik masih ada di masa puber, jelang sweet seventeen.

"Saya tak pernah memperlakukan Taufik dan pemain seperti anak kecil. Mereka adalah calon juara," kata Mulyo. Rutinitas makan misalnya. Mulyo membiasakan agar Taufik paham dengan kebutuhan kalori sehari-hari. Juga waktu istirahat. "Jam berapapun saya pulang, tepat pukul tujuh saya sudah ada di lapangan latihan," kata Taufik suatu ketika.

Jika disimak, persoalan remeh temeh itulah yang sudah membuat merosot mental juara pemain pelatnas, bahkan kepada yang senior. Makan disodori, jam istirahat dipatok sedemikian rupa. Imbasnya, Hayom masih merasa kanak-kanak meski sudah berusia 24 tahun. Dia tak juga siap memanggul beban sebagai tunggal ketiga. Bahkan ketika situasi sudah memaksa Simon Santoso menjadi tunggal pertama, Sony Dwi Kuncoro pada peringkat 200-an dan bulutangkis sudah menempatkan Taufik sebagai duta, bukan lagi harus juara.

Maka, pengurus layak mendapatkan nilai merah tetang kemampuan mendidik pemain di luar lapangan. Di dalam lapangan, kalau ada nilai buruk lebih dari poin merah saya akan memilihnya. Sebab, jika dikorek dua pemain penentu itu, keberanian Lindaweni dan Hayom tak terasah. Hayom baru sekali menjadi tunggal ketiga pada event beregu, setali tiga uang dengan Lindaweni.

Jepang bisa jadi pembanding. Mereka mengasah mental pemain dengan "memaksa" tampil di event beregu liga antarklub yang digulirkan pada akhir pekan. Simak saja jawaban Takeda Ueda tentang kunci mengalahkan Hayom: "Saya pede (percaya diri) kalau bisa menang."

Berdalih tak ada bakat? Nonsense! Li Yongbo menyampaikan kepada dunia tepat setelah tim Thomas juara: Indonesia memiliki begitu banyak pemain berbakat! Sirkuit nasional juga tak pernah sepi peminat, tak peduli sedang liburan sekolah atau tidak.

Mengutip Taufik lagi. "Kalau dibilang sedih, sangat sedih dan kecewa. Ini hasil terburuk sepanjang sejarah karena kita belum pernah dikalahkan Jepang. Tapi sudah terjadi, seharusnya semua pihak bisa mengambil hikmah untuk benar-benar berbenah."

Kok saya juga ikut-ikutan "bersyukur" dengan kekalahan tim di perempat final. Ayo PBSI, saatnya chek-up ke dokter karena ada komplikasi penyakit dalam tubuhmu!

==

* Penulis adalah wartawan hariandetik , @femidiah


(a2s/a2s)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads