"Ada sesuatu yang salah. Istilahnya, ada yang sakit. PB PBSI itu sedang sakit. Semua ingin diobati," tukas mantan bintang badminton putri Indonesia di era 70 dan 80-an, Imelda Wiguna, di Hotel Century, Jakarta, Senin (28/5/2012).
"Terbanyak banyak evaluasi. Evaluasi yang tidak ada hasilnya. Hanya evaluasi, tidak ada tindakan," sambung mantan pemain spesialis ganda itu, antara lain bersama Christian Hadinata, Verawaty Fajrin dan Rosiana Tendean.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sudah tidak cukup waktu. Masak kalah terus? Kami yang sudah merintis dari awal. Ini bukan sebuah keprihatinan lagi. Nangis saja percuma. Ngomong saja tidak didengar," timpal juara All England tujuh kali, Rudi Hartono.
"Banyak pengurus asing yang memegang jabatan yang tidak sesuai dengan kompetensi dan kemampuannya. Malu kami. Istilah kata, ini seperti borok. Kalau mau sembuh ya harus dipotong atau berhenti," tegas dia.
"Ini seperti adanya kekuasaan per orang. Memang kita tidak anti terhadap pelatih luar. Tapi seharusnya mekanisme pengambilan pelatih, harus jelas. Di pengurusan saat ini itu, Ketua Bidang Pembinaan untuk para atlet tunggal satu, dan untuk atlet ganda satu," ulas Rudy.
Kritikan keras juga disampaikan oleh mantan ratu badminton tunggal putri, Susi Susanti. Dengan masa waktu kepengurusan yang tersisa, PBSI harus bisa mengembalikan kewenangan setiap bidang sesuai tugas pokok dan fungsinya.
"Masa bakti kepengurusan akan berakhir bulan November 2012. Untuk itu pengurus harus fokus mempersiapkan atlet untuk Olimpiade di London dengan sebaik-baiknya," tukas Susi.
(a2s/roz)











































