Ketua Umum PB PBSI Djoko Santoso menyatakan tidak mau mundur seperti tuntutan sejumlah mantan pebulutangkis top Indonesia, terkait kegagalan di Piala Thomas dan Uber.
"Yang pertama, saya selaku ketum PB PBSI mohon maaf kepada masyarakat pecinta bulutangkis, di mana hasil pertandingan tim Thomas-Uber tidak sesuai harapan. Termasuk dari mantan pemain yang telah memberi saya berupa masukan kritik dan saran," ujar Djoko di markas bulutangkis Cipayung, Jakarta, Selasa (29/5/2012).
Kemarin, sejumlah mantan pemain seperti Rudy Hartono, Christian Hadinata, Imelga Wiguna, Liem Swi King, Haryanto Arbi, Joko Supriyanto, Susi Suanti dll, mengkritik keras PBSI karena dinilai gagal membawakan prestasi buat tim bulutangkis Indonesia. Regenerasi disepakati tidak berjalan sebagaimana mestinya. Pengurus PB PBSI diminta bertanggung jawab dan Djoko didesak mundur.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya selalu menerima saran dan masukan. Untuk tuntutan mereka sampai saat ini belum terima surat. Saya hanya ingin bertanggung jawab. Kalau ada masukan saya akan pelajari dan akan saya perbaiki," ujarnya.
"Kalau mundur, saya tidak mau. Itu semua tergantung mekanisme di munas nanti saja," tegas Djoko yang juga mantan Panglima TNI itu.
Pada gelaran tahun ini di Wuhan, China, tim putra Indonesia untuk pertama kalinya dikalahkan Jepang di babak perempatfinal, dan baru kali ini "Merah Putih" gagal menembus babak semifinal di Piala Thomas. Tim Uber Indonesia juga kandas di babak delapan besar dari Jepang.
Di turnamen perorangan, dari empat Super Series di tahun ini, dari total 20 nomor, wakil Indonesia hanya menyabet dua gelar, atas nama ganda campuran Tontowi Ahmad/Lilyana Natsir.
(a2s/krs)











































