Menyoal Lenguhan-lenguhan di Lapangan Tenis

Menyoal Lenguhan-lenguhan di Lapangan Tenis

- Sport
Senin, 01 Okt 2012 18:35 WIB
Menyoal Lenguhan-lenguhan di Lapangan Tenis
REUTERS/Alessandro Bianchi
Tokyo - Suka mendengar lenguhan-lenguhan para petenis yang sedang beraksi di lapangan, atau malah sebaliknya? Apapun, usaha untuk meredam kebisingan akibat lenguhan di masa depan uniknya didukung oleh salah satu petenis yang justru suka melenguh, Maria Sharapova.

Sharapova, yang melengkapi koleksi Grand Slam usai menjuarai Prancis Terbuka 2012, dikenal dengan lenguhan-lenguhan keras yang acapkali mengiringi aksinya di lapangan tenis. Ketika diukur, teriakannya mencapai 101 desibel alias setara dengan bunyi gergaji mesin, bor bertekanan udara, atau laju kereta.

Perkara lenguh-melenguh sendiri kembali jadi buah bibir tahun ini setelah Victoria Azarenka dan Sharapova berhasil menjuarai dua ajang Grand Slam pertama di tahun 2012 seraya menyuarakan lenguhan di lapangan. Ada yang suka, ada pula yang terganggu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Aku suka ketika Sharapova melenguh. Itu bagian dari permainan. Tak perlu ada larangan," kata Saeko Hasebe (27 tahun) seorang asisten dokter gigi yang menyaksikan turnamen Toray Pan Pacific di Tokyo pekan lalu.

"Itu terlalu berisik. Aku cuma berada di sini dua jam dan aku sudah merasa pusing," timpal Makoto Taniguchi, seorang pebisnis yang kontra dengan suara lenguhan petenis.

Pro-kontra suara lenguhan bukan cuma terjadi di antara para penonton, tetapi juga di kalangan petenis dan bahkan penyelenggara pertandingan.

Ada yang menginginkan agar para petenis pelenguh dilarang untuk melakukannya karena bisa memecah konsentrasi pemain lawan. Tidak mudah untuk menyetop sebuah kebiasaan, badan pengatur tenis pun mengambil alternatif dengan cara mendidik para petenis belia guna mengecilkan suara teriakan ataupun lenguhan di lapangan. Langkah inilah yang didukung Sharapova.

WTA berencana untuk meredam lenguhan para petenis era berikutnya dengan dibantu oleh umpire yang bersenjatakan sebuah alat pengukur tingkat kebisingan di lapangan. Sedangkan penyesuaian terkait hal itu juga telah dimulai di akademi-akademi tenis terkemuka dan juga dengan para pemain yunior, dan turnamen tier-tier rendah.

"Secara garis besar, keputusan yang tepat sudah diambil oleh tur," kata Sharapova kepada Reuters.

"Sejak aku bisa mengingatnya, aku sudah mulai melenguh. Aku melihat video diriku sendiri (di masa lalu) dan aku sudah melenguh sejak saat itu. Tak ada yang memintaku untuk melakukannya di Rusia atau di Florida. Itu cuma kebiasaan."

"Saat Anda memulai sesuatu dari usia yang sangat muda dan terus melakukannya, itu menjadi sebuah kebiasaan, terlepas dari apakah Anda melenguh atau tidak. WTA punya sebuah rencana. Itu adalah langkah cerdas, alih-alih memaksa orang menghentikan atau mengubahnya di tengah kariernya," paparnya.

Sejatinya, kebiasaan melenguh itu tidak cuma terjadi di lapangan tenis putri saja. Petenis putra tenar era 1970 dan 80-an Jimmy Connors, misalnya, yang acapkali menyuarakan lenguhan di lapangan. Namun, lenguhan dari sektor putra relatif sepi dari kontroversi, tidak seperti di sektor putri.

"Mungkin itu karena suaranya tidak dalam pitch tinggi, jadi Anda tak perlu terlalu risau," duga petenis putri Samantha Stosur.


(krs/rin)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads