Gegap Gempita Istora di Indonesia Open dan Proses Menuju Prestasi Kembali

Gegap Gempita Istora di Indonesia Open dan Proses Menuju Prestasi Kembali

Meylan Fredy Ismawan - Sport
Senin, 17 Jun 2013 13:30 WIB
Gegap Gempita Istora di Indonesia Open dan Proses Menuju Prestasi Kembali
ANTARA/Ismar Patrizki/
Jakarta - Djarum Indonesia Open Super Series Premier 2013 berjalan dengan sangat sukses dan menuai banyak pujian. Kesuksesan penyelenggaraan tersebut kini diharapkan bisa menular ke level kesuksesan prestasi.

Indonesia Open memang telah mendapatkan pengakuan sebagai salah satu turnamen bulutangkis terbaik di dunia. Federasi Bulutangkis Dunia (BWF) menobatkan turnamen ini sebagai turnamen terbaik tahun lalu.

Namun, penghargaan dari BWF itu tak lantas membuat pihak penyelenggara begitu saja puas. Berbagai pembenahan dan inovasi dilakukan untuk turnamen tahun ini, yang mengambil tema "Pride of The Nation", 10-16 Juni 2013. Hasilnya adalah sebuah perhelatan yang memang benar-benar memuaskan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejak hari pertama hingga final, ribuan penonton berbondong-bondong datang ke Istora Senayan untuk menyaksikan jagoan bulutangkis mereka bertanding. Tribune penonton pun hampir selalu penuh dan teriakan-teriakan "IN - DO - NE - SIA" membahana setiap saat. Ini adalah bukti nyata bahwa olahraga bulutangkis memang masih dicintai oleh masyarakat Indonesia.

Di luar arena, para penonton juga dimanjakan dengan berbagai booth hiburan dan stand-stand yang menjual suvenir atau aksesori khas bulutangkis. Demi memuaskan penonton, pihak penyelenggara bahkan sampai memerhatikan hal-hal kecil seperti masalah toilet. Selama perhelatan Djarum Indonesia Open Super Series Premier 2013 lalu, kebersihan toilet benar-benar terjaga karena pihak penyelenggara selalu mengontrolnya. Tak ada toilet kotor dan bau pesing lagi.

Para pemain yang bertanding juga mendapatkan servis sangat baik dari pihak penyelenggara. Pihak penyelenggara menyediakan sebuah player lounge yang nyaman dan ruang ganti yang sangat bersih dengan harapan para pemain merasa puas dan tidak kapok datang ke Jakarta. Hasilnya, keluhan-keluhan pemain yang dulu muncul sekarang hampir tak ada lagi.

Tak cuma itu saja. Awak media yang meliput turnamen juga diperlakukan istimewa. Untuk menunjang kerja para reporter dan fotografer, pihak panitia menyiapkan sebuah media center yang cukup luas dengan jaringan internet memadai. Awak media juga tak perlu repot jajan di luar karena panitia telah menyediakan makan siang dan makan malam plus snack dan minuman sepanjang waktu. Empat buah kursi pijat elektronik yang disediakan oleh salah satu sponsor juga bisa digunakan oleh para awak media.

Selain itu, kerja jurnalis juga sangat terbantu dengan aksi cekatan panitia dalam menangani sebuah konferensi pers pasca pertandingan. Kalau pun tak ada konferensi pers, jurnalis bisa dengan mudah menemui pemain di mixed zone. Penerjemah beberapa bahasa asing juga telah disiapkan.

"Turnamen tahun ini lebih baik daripada tahun-tahun sebelumnya. Banyak hal-hal kecil yang diperbaiki. Penonton juga lebih ramai dan lebih bersemangat dibandingkan tahun lalu," puji Event Director BWF, Darren Parks, Minggu (16/6/2013).

"Turnamen ini levelnya sangat tinggi dan sudah setara dengan All England," katanya.

Djarum selaku sponsor utama Indonesia Open memang ingin turnamen ini selalu menjadi yang terbaik. Mereka sangat total dalam mempersiapkan acara ini agar predikat Super Series Premier tak lepas.

"Ini adalah penyelenggaraan Indonesia Open terbaik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Tahun lalu memang lumayan oke, tapi untuk tahun ini saya rasa lebih baik," tutur Marketing Manager PT Djarum, Roland Halim.



Yang patut disayangkan, kesuksesan penyelenggaraan tersebut belum diikuti dengan kesuksesan dalam hal prestasi pemain-pemain Indonesia. Dari lima nomor yang dipertandingkan, hanya satu gelar yang bisa direbut. Ganda putra Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan menjadi penyelamat muka Indonesia setelah mereka mengalahkan Ko Sung Hyun/Lee Yong Dae di final.

Harapan sebenarnya sempat muncul ketika Indonesia meloloskan 11 wakil di babak perempatfinal. Tapi, satu per satu dari mereka berguguran dan hanya empat yang bertahan di semifinal, yakni Ahsan/Hendra, Dionysius Hayom Rumbaka, Tommy Sugiarto, dan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. Dari empat wakil di semifinal, hanya Ahsan/Hendra yang lolos ke partai puncak dan akhirnya juara.

Dalam lima tahun terakhir, tuan rumah memang tak bisa mendapatkan lebih dari satu gelar di Indonesia Open. Indonesia bahkan tak kebagian gelar pada tahun 2009, 2010, dan 2011.

Terkait hal ini, Roland juga sedikit kecewa. Dia sebenarnya berharap pemain-pemain Indonesia bisa lebih sukses ketika tampil di hadapan pendukung sendiri.

"Dari empat yang bertahan di semifinal, saya tadinya prediksi tiga yang lolos ke final, atau paling tidak dua. Namun, ternyata hanya satu. Untungnya juara," katanya.

Kendati belum memenuhi ekspektasi, prestasi pemain-pemain Indonesia sebenarnya mulai menanjak dan hal ini patut diapresiasi. Tontowi/Liliyana juara di All England dalam dua tahun terakhir dan hat-trick juara di India Terbuka dan Makau Terbuka. Ahsan/Hendra tahun ini juga juara di Malaysia Terbuka.

DI level turnamen Grand Prix Gold, wakil-wakil Indonesia juga mulai bisa unjuk gigi. Indonesia mendapatkan tiga gelar di Malaysia GP Gold tahun ini, sementara di Thailand GP Gold Indonesia membawa pulang dua gelar.

"Kita selama ini untuk Indonesia Open targetnya memang dua, yaitu ganda putra dan ganda campuran. Memang agak disayangkan Butet dan Owi tidak bisa masuk ke final. Tapi, kalau boleh mengutip kata Butet, tiap pertandingan ada yang kalah ada yang menang," ujar Ketua Umum PB PBSI, Gita Wirjawan.

"Yang bisa dibanggakan adalah semua nomor bisa masuk ke perempatfinal, termasuk di antaranya Tommy yang mengalahkan Chen Long, Hayom yang bisa mengalahkan pemain yang peringkatnya jauh di atas dia, dan juga Bellaetrix (Manuputty) yang juga dahsyat menurut saya," katanya.

"Menurut saya, progress-nya sudah kelihatan. Tapi, saya akan yakin kalau kita semangatnya seperti ini, pemain-pemain muda terus diberi pengalaman dan jam terbang yang lebih banyak. Menurut saya, ini sudah tanda-tanda yang positif," ujar pria yang juga menjabat Menteri Perdagangan RI ini.

Tanda-tanda positif yang sekarang sudah muncul tentu diharapkan bisa berujung ke gelar-gelar juara di masa mendatang. Hal ini memang membutuhkan waktu dan kerja keras dari semua pihak terkait, tak terkecuali para pemain sendiri.

"Sejak kepengurusan baru, semuanya jadi lebih terorganisir, lebih rapi. Pelatnas juga sudah ada kemajuan, program ke depannya jelas. Kini atlet lebih nyaman untuk bertanding. Masalahnya tinggal atlet yang harus mempertanggungjawabkannya dengan prestasi. Bukan jadi beban, tapi ini harus jadi motivasi untuk mereka," kata tunggal putra Indonesia yang baru saja pensiun, Taufik Hidayat.


===

* Penulis adalah wartawan detiksport. Akun twitter: @meylanfredy

(mfi/a2s)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads