Sanksi kepada dua pemain Thailand itu masih bisa bertambah. Saat ini Federasi Bulutangkis Dunia (BWF) masih terus melakukan investigasi kasus tersebut.
"Apa yang sudah kami bangun selama 60 tahun terakhir runtuh hanya akrena ulah personal. Baru kali ini saya mendapati kasus kekerasan di olahraga enam dekade terakhir," ujar Presiden BAT Charoen Wattanasin seperti yang dilansir Reuters.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adu pukul yang dilakukan kedua pemain itu memang mengejutkan. Apalagi, Issara dan Jongjit pernah berpasangan saat tampil pada Olimpiade 2012 London lalu.
Di Kanada Terbuka itu keduanya tak lagi berpasangan. Issara duet dengan Pakkawat Vilailak sedangkan Jongjit tampil bersama Nipitphon Puangpuapech. Kebetulan mereka mulus ke final.
Atmosfer final ganda putra pun kian memanas. Issara kehilangan kendali setelah Jongjit memukul kepalanya dengan raket saat pindah lapangan. Tak terima perlakukan itu, Issara memukul Jongjit. Jongjit pun lari ke lapangan sebelah. Namun, Issara mengejar dan melanjutkan pemukulan.
Awalnya Issara diancam hukuman seumur hidup sedangkan Jongjit diganjar larangan enam bulan. Namun BAT meringankan hukuman.
Sementara, BWF meminta kedua pemain melakukan pembelaan diri tertulis sebelum vonis diketuk. Mereka mendapati beberapa poin kesalahan, yakni perlakuan kasar, menggunakan kata-kata kasar, dan tindakan tidak sportif pada pertandingan.
Sementara itu, Jongjit menolak meminta maaf kepada Issara yang disampaikan lewat surat elektronik. Selain itu istri dan ibunda Iasara juga minta maaf.
"Hanya jika dia mengatakan yang sebenarnya kami bisa berteman lagi, tapi kalau dia tetap berbohong, maka tidak," kata Jongjit.
"Saya tak membalas e-mail dia karena tak tahu harus berkata apa. Saya memafkan dia dan menerima hukuman dari BAT dan BWF," ucap Jongjit lagi.
(fem/roz)











































