"Saya malah mendapatkan rejeki ganda. Setelah jadi juara, sepekan kemudian putra pertama saya lahir. Dia saya beri nama Mario Timothy Hadinata."
Senyum Christian Hadinata terus mengembang sepanjang acara buka bersama sekaligus pelepasan tim menuju Kejuaraan Dunia 2013 di Senayan National Golf Club, Jakarta, hari Selasa (30/7) lalu. Mantan ketua subbidang pemusatan latihan PBSI itu sesekali saling goda dengan Rexy Mainaky, mantan anak didik yang kini menjadi bosnya di pelatnas.
Pergantian posisi itu tak mengurangi keharmonisan mereka. "Saya sengaja memaksa Rexy berhenti dari nomor tunggal dan mendidiknya ke nomor ganda. Pasangan berwajah tampan, dia dan Ricky Subagja, plus prestasi top menjadikan eksistensi ganda masih terjaga," kata Christian.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Obrolan tentang masa lalu itu seperti menjadi bumbu untuk membangkitkan kenangan, dan kenangan-kenangan semacam itu terus tersimpan dalam diri Christian. Dalam perbincangan dengan detiksport, ia mengaku memiliki sebuah kebiasaan khusus dalam bernostalgia. Jika dirundung rindu itu, bapak dua anak itu akan membuka koleksi foto dan memutar kembali video-video lawasnya.
Kebiasaan itu membuatnya kian mudah menceritakan kejayaan masa mudanya dengan runtut. Sikap tertutup dengan memberikan jawaban βamanβ setiap kali ditanya strategi dan urusan rumah tangga pelatnas serta-merta sirna, berganti blak-blakan.
Christian mendadak menjadi "opa-opa" yang gemar bercerita tanpa henti. Sesekali senyumnya berubah menjadi tawa riang. Atau mendadak terenyuh mengingat suka-duka hidup di flat sederhana berlantai dua di Jalan Manila, Jakarta.
"Kisah saya tidak tersimpan begitu saja. Kisah saya ada sampai saat ini, saat Indonesia dikenal dengan ditakutinya kekuatan ganda putra dan campuran kita," kata Christian.
Sebelumnya dia pemain yang memilih berkonsentrasi di sektor ganda. Meskipun pada era 1970-an nomor tersebut masih dipandang sebelah mata. Sudah begitu hadiah uang yang diterima juga tak setara dengan sektor tunggal putra.
"Saya tersinggung karena ganda selalu dianggap kelas kedua. Waktu itu tekad saya hanya satu, membuat sektor double untuk tidak kalah gengsi," cetus Christian.
Faktanya, pria kelahiran 11 Desember 1949 itu menjadi juara dunia pada dua nomor ganda sekaligus di tahun kedua Kejuaraan Dunia, 1980. Dia menjadi juara di sektor ganda putra bersama Ade Chandra, dan ganda campuran dengan Imelda Wiguna. Suami Okke Anwar itu juga sudah merajai sektor itu dengan membuktikan jadi jawara berbagai turnamen bergengsi. Dua kali gelar juara All England 1972 dan 1973 bersama Ade Chandra dikantongi.
Tak hanya sukses yang membuat Christian susah melupakan kejuaraan dunia itu. Waktu itu, dia hampir saja batal memperkuat tim "Merah Putih". Istrinya, Okke Anwar, yang hamil sembilan bulan terpeleset dan ada tulang retak.
Dia tak tega meninggalkan Okke sendirian di flat dua lantai. Christian tak bsia membayangkan istrinya naik-turun tangga sendirian. Maklum, ruang tidur ada di lantai dua dan ruangan lain di lantai dasar. "Kalau saya tinggal bagaimana dia beraktivitas? Saya mikir ibunya dan calon bayi. Saya sangat khawatir dengan kondisi calon bayi," kenang Christian.
Namun, PBSI yang waktu itu dipimpin Sudirman tak memberikan toleransi. Christian wajib memperkuat Indonesia. Ketua PBSI saat itu, Sudirman, tak ingin para pemainnya gagal total di kandang sendiri.

Sudirman pun menawarkan solusi. Okke mendapatkan fasilitas mobil dan sopir yang stand by di depan flat sepanjang Christian bermain di Istana Olahraga (Istora), Senayan.
Christian sepakat. "Eh, saya malah tampil tanpa beban. Saat di lapangan saya fokus ke pertandingan tapi tanpa memikirkan target dari PBSI," kata dia.
Keputusan jempolan. Christian naik podium tertinggi di ganda putra. Berpasangan dengan Ade, mereka menumbangkan ganda Indonesia lainnya, Hariamanto Kartono/Rudy Heryanto.
Di sektor ganda campuran, Christian juga jadi jawara. Bersama Imelda Wiguna, mereka menumbangkan asa ganda Inggris, Mike Tredgett/Nora Perry.
"Saya malah mendapatkan rejeki ganda. Setelah jadi juara, sepekan kemudian putra pertama saya lahir. Dia saya beri nama Mario Timothy Hadinata," kata Christian.
Hingga kini Christian tetap fokus mengembangkan sektor ganda. Statusnya yang berubah sebagai staf ahli PBSI membuatnya kian leluasa berbagi pengalaman.
"Karena saya sudah pensiun, saya tak punya ambisi untuk menjadi yang terbaik. Sebaliknya saya ingin sekali ada yang melebihi prestasi saya di kejuaraan dunia dan event lainnya."
| Legenda Badminton yang Mengidolakan Franz Beckenbauer Sederet prestasi di masa jaya dan konsistensi mendukung kepengurusan PBSI membuat sosok Christian Hadinata tetap mempunyai fan di kalangan anak muda. Permintaan foto bersama atau tanda tangan di t-shirt tak pernah kering sampai saat ini. Namun siapa sejatinya idola Christian? "Kita mempunyai banyak pemain besar, tapi di nomor tunggal. Makanya saya merasa biasa-biasa saja," kata Christian. Maklum, sektor ganda memang menjadi pilihannya. Bahkan sejak nomor tersebut belum naik daun seperti saat ini. Christian justru menunjuk mantan pelatih Bayern Munich, Franz Beckenbauer, sebagai pemain kesukaan. "Der Kaiser (julukan Franz Beckenbauer) benar-benar seorang yang komplit menjalani profesi. Dia sangat paripurna," kata Christian. Pemilik gelar juara All England 1772 dan 1973 serta juara dunia 1980 tersebut selalu mengikuti kiprah Beckenbauer. Sejak pria kelahiran Munich, 1 September 1945 itu menjadi pemain, di klub dan di timnas, sampai menjadi pelatih. "Selalu menjadi yang terbaik. Itulah Franz Beckenbauer. Saat jadi pemain dan pelatih bisa jadi juara dunia," kata Christian. "Tak hanya pandai di lapangan tapi juga mengurus organisasi. Nyatanya dia berhasil meyakinkan FIFA agar memilih Jerman jadi tuan rumah Piala Dunia 2006 lampau." |












































