PBSI membuka wacana untuk tak mengirimkan tim pada Piala Uber 2014. Ketua Bidang Pembinaan Prestasi PBSI Rexy Mainaky tak ingin tim Uber hanya menjadi penggembira di ajang beregu dua tahunan itu, menilik pada peringkat pemain dan penampilan kurang memuaskan pada ajang super series.
Menurut Elisabeth Latief, yang akrab disapa Ice, argumen itu kurang dapat diterima. "Dengan materi pemain yang ada, apakah tim Thomas juga punya jaminan bukan jadi penggembira? Hanya ada Hendra Setiawan dan Mohammad Ahnsa yang meyakinkan, lainnya?" gugatnya dalam percakapan dengan detikSport, Rabu (23/10/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, kata Ice, absen dari gelaran Piala Uber 2014 justru akan kontraproduktif sehubungan dengan rencana Indonesia menjadi tuan rumah Piala Thomas-Uber 2016.
"Alasan kedua, bagaimana kampanye kita untuk Piala Uber 2016? Bukankah kita akan menjadi tuan rumah Piala Thomas-Uber? Kalau kita tidak ikut serta pada 2014 nanti bagaimana sikap negara lain?" kata perempuan yang memperkuat tiga kali Piala Uber itu.
Ice kemudian memberikan gambaran penampilan tim Uber pada 2008 lalu di Jakarta. Saat itu dirinya, bersama Susi Susanti, didapuk menjadi pendamping tim Uber Merah Putih sebagai manajer dan asisten manajer. Pada prosesnya tim Uber Indonesia bisa menjadi runner-up, setelah kalah dari China di partai final, kendatipun sama sekali tidak diunggulkan.
"Waktu itu banyak yang menyayangkan langkah kami menerima tugas itu. Justru kalimat-kalimat itu menjadi pelecut kami untuk bisa membuat tim ini bisa berbuat lebih," kata Ice.
"Kalau memang sudah paham dengan materi pemain yang kurang meyakinkan, seharusnya PBSI menyiapkan tim Uber lebih awal. Kebersamaan menjadi aspek paling penting yang harus dibangun," tegas Ice.
Dia pun menunjuk Susi Susanti sebagai sosok yang paling tepat untuk menggembleng tim Uber kali ini. "Susi Susanti sangat pas jadi manajer lagi. Dia bisa menularkan aura juara kepada tim."
(fem/krs)











































