Ketegangan Yul Asteria Zakaria berbuah air mata suka cita. Putra sulung dia, Markis Kido, yang berpasangan dengan Hendra Ahsan, menjadi juara Olimpiade 2008 di Beijing.
Belum juga surut kegembiraan itu, petinggi PB Jaya Raya, Jakarta, klub asal Kido, mengumumkan pemberian bonus berupa rumah senilai Rp 1 miliar di perumahan Vania Permata, Bintaro.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebab, sejatinya Yul hanya mempunyai cita-cita sederhana saat mulai membuka jalan untuk Kido dan dua adiknya, Bona Septano dan Pia Zebadiah, menjadi pemain bulutangkis. "Saya ingin anak-anak mempunyai penghasilan pada usia lebih muda dari orang-orang kebanyakan," kata Yul.
Yul pun mempunyai ide: asal jadi atlet untuk menjawab keinginannya itu. Kido diikutkan les renang dan sepatu roda. Setelah berlatih beberapa lama, dia coba-coba kirim buah hatinya ke kejuaraan-kejuaraan di lingkup bekasi, tempat tinggal mereka.
Namun, Yul kecewa berat saat hanya menerima beberapa buah mie instan setelah anaknya jadi juara di tingkat kabupaten. Dari analisis sederhana dia, bulutangkislah yang menawarkan hadiah besar.
Kido dititipkan kepada seorang pelatih kampung. Lumayan belum lama bergabung, Kido bisa menjadi juara turnamen di level kabupaten. Benar, hadiah tak cuma mie instan. Yul pun kian semangat mendampingi putranya setiap latihan. Dua adiknya juga diinstruksikan ikut bulutangkis.
Dengan menganalogikan niatan sederhana Yul kepada putra-putrinya itu seharusnya pemassalan bulutangkis tidaklah rumit. Yul tak menyimpan keinginan muluk-muluk.
Dari sekadar ingin anak-anaknya lebih dini dari teman-teman seusianya, Yul mendapatkan rezeki nompok bertubi-tubi. Lho kok Kido bisa menembus klub besar di DKI Jakarta, PB Jaya Raya. Kemudian dia dibuat terkejut lagi, lho kok bisa Kido menjadi pemain pelatnas? Lho kok Kido bisa jadi juara di level Asia Tenggara, Asia kemudian di persaingan dunia?
"Janji manis" itu seharusnya cukup untuk membuat bulutangkis populer. Manfaat di depan mata sudah jelas: menjadi lebih sehat.

Memang zaman sudah bergeser. Saat Indonesia masih berada pada generasi emas dengan menguasai nomor tunggal putra dan putri, orang merasa malu kalau tak punya raket bulutangkis di rumah. Dia akan merasa jadi orang udik yang jauh dari kata keren dan trendy.
Waktu itu, pertandingan-pertandingan tarkam alias antarkampung masih semarak. Orang-orang tak malu menjiplak gaya sang tokoh idola.
Saat ini merupakan saat yang mendukung orang-orang yang merasa ketinggalan zaman jika tak mempunyai gadget pintar yang bisa merekam jumlah input dan output kalori sehari-hari.
Nah, PP PBSI mulai menyadari fakta tersebut. Orang-orang dewasa pun dibuatkan lapangan bermain bulutangkis di taman-taman kota. Kerja sama dengan Coca-Cola Indonesia juga menawarkan 1 juta raket kepada publik.
Ide Rexy Mainaky juga menarik. Dia membuat peraturan khusus setiap kali diundang pada laga eksebisi. Misalnya, bola yang melewati net ke area lawan tetap sah meski bola sudah mantul ke lantai. Atau dengan memberikan luas area lapangan yang berbeda daripada pertandingan resmi. Beberapa gaya atraktif juga sering ditunjukkan dia agar bulutangkis kelas prtandingan persahabatan tetap menarik.
Untuk pemassalan di level anak-anak, PBSI menggandeng sekolah-sekolah dasar di daerah. "Kami ajak siswa-siswa Sekolah Dasar untuk bermain bulutangkis dengan cara yang sederhana. Saat ini kami mencoba dengan alat bantu balon yang dipukul dengan tangan kosong," kata Wijanarko Adi Mulyo, tim pemandu bakat PBSI.
Pemandu Bakat PBSI itu memulai langkah awal dengan memberikan pelatihan kepada guru lebih dulu. "Setidaknya ada 50 guru dari masing-masing kecamatan yang memahami dan bisa mengajarkan teknik ini," kata dia.
Kudus, Jawa Tengah, menjadi kabupaten perintis. Ke-50 guru sudah mendapatkan pelatihan tahap pertama. Siswa-siswa dari 50 sekolah dasar menjadi target pengembangan pemassalan bulutangkis.
=====
* Ayo dukung gerakan #AngkatRaketmu . Website: angkatraketmu.com Twitter: @AngkatRaketmu
(fem/a2s)











































