7 Momen Rivalitas Klasik Nadal-Federer

7 Momen Rivalitas Klasik Nadal-Federer

Rifqi Ardita Widianto - Sport
Kamis, 23 Jan 2014 18:00 WIB
7 Momen Rivalitas Klasik Nadal-Federer
AFP
Jakarta -

Rivalitas antara Rafael Nadal dan Roger Federer adalah salah satu yang terpanas di dunia tenis. Sebelum melakoni duel ke-33 di semifinal Australia Terbuka nanti, bagaimana sejarah pertarungan keduanya?

Laga klasik Nadal-Federer bakal tersaji di Rod Laver Arena, Melbourne, Jumat (24/1/2014) besok. Rivalitas antara keduanya telah mengakar dan berlangsung sejak satu dekade silam.

Total 32 pertemuan telah dijalani, 28 di antaranya berada di babak semifinal atau final. 10 kali keduanya saling beradu kemampuan di turnamen Grand Slam, 16 kali di ajang Masters, dan lima kali di final ATP World Tour.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Federer merupakan pengumpul titel Grand Slam terbanyak dengan 17 gelar, sementara Nadal berada di urutan ketiga dengan 13 trofi. Catatan ini membuat pertarungan dua petenis tersebut penuh aroma gengsi dan harga diri.

Lantas bagaimanakah perjalanan persaingan keduanya?. Berikut adalah kumpulan pertandingan terbaik antara Nadal dan Federer, yang dikutip dari SportsIllustrated.

1. Miami Masters 2004

Getty Images
Babak ketiga ajang Miami Masters 2004 menjadi awal rivalitas antara Nadal dan Federer. Keduanya untuk pertama kali saling berhadapan.

Kala itu Nadal baru berusia 17 tahun, dengan gaya yang disebut-sebut mirip dengan seniornya Carlos Moya yang sama-sama dari Spanyol. Menempati ranking 34 dunia, laga ini jadi ajang Nadal untuk memperkenalkan diri ke dunia, sekaligus kepada Federer sebagai petenis nomor satu waktu itu.

Meski tak diunggulkan, Nadal tak tampak canggung menghadapi Federer. Sementara di lain sisi, Federer yang berambisi melengkapi titel Australia Terbuka yang baru diraihnya terlihat kerepotan.

Dengan pukulan forehand-nya yang khas, Nadal akhirnya mampu mengalahkan Federer dengan dua set langsung 6-3, 6-3 dalam waktu 70 menit.



2. Prancis Terbuka 2005

AFP
Nadal mulai menapaki kesuksesan di tahun 2005. Pada tahun ini, ia telah memenangi titel di Monte Carlo Masters, Barcelona Terbuka, dan Rome Masters. Menempati peringkat lima dunia, ia pun jadi incaran para rival.

Termasuk Federer, yang mendapatkan kesempatan untuk menghentikan laju Nadal di Prancis Terbuka. Berhadapan di semifinal, Federer sempat mencuri satu set dari lawannya asal Spanyol itu.

Namun pada akhirnya, Federer harus mengakui keunggulan Nadal. Petenis Swiss itu kalah 6-3, 4-6, 6-4, dan 6-3, setelah dicecar di sisi backhand.

Nadal kemudian melaju ke final dan mengalahkan Mariano Puerta untuk memenangi titel Roland Garros pertamanya.



3. Monte Carlo Masters, Roma Masters, Prancis Terbuka, dan Wimbledon 2006

AFP
Tahun 2006, persaingan Nadal dan Federer makin memanas. Dengan Nadal kini menempati urutan dua dunia sementara Federer bertahan di rangking, aroma gengsi pun mewarnai pertarungan di musim ini.

Bertemu di final Monte Carlo Masters, keduanya bertanding selama tiga jam 50 menit di mana Nadal berhasil menang 6-2 6-7 6-3 7-6. Nadal bahkan berhasil bangkit dari ketertinggalan 0-3 di tie-breaker terakhir.

Tiga pekan kemudian, keduanya kembali bertemu di final Roma Masters. Kali ini Nadal dan Federer bertarung sengit selama lebih dari lima jam. Nadal kembali berjaya di permukaan tanah liat, dengan 6-7, 7-6, 6-4, 2-6, 7-6.

Beberapa minggu berikutnya, duel kembali tersaji di final Prancis Terbuka. Ini merupakan final Roland Garros pertama Federer dan ia mengincar titel demi menyamai catatan Andre Agassi sebagai petenis yang meraih seluruh titel Grand Slam.

Tapi apa daya ia harus menunda mimpi tersebut jadi kenyataan. Sisi backhandnya kembali jadi incaran Nadal dan harus kalah 1-6, 6-1, 6-4, 7-6. Nadal pun memepertahankan gelarnya.

Meski demikian, tiga kekalahan tersebut berhasil di balas oleh Federer di Wimbledon. Jika Nadal menegaskan ia adalah raja tanah liat, Federer menyatakan dirinya sebagai penguasa lapangan rumput.

Meski sempat kehilangan satu set, Federer menutup laga dengan 6-0, 7-6, 6-7, 6-3 dan meraih titel Wimbledonnya yang keempat secara beruntun. Ia juga memperpanjang rekor kemenangan di arena rumput jadi 48 laga.



4. Hamburg Masters dan Wimbledon 2007

Getty Images
Setelah dua tahun selalu takluk di arena tanah liat, Federer akhirnya mampu memecahkan dominasi Nadal di permukaan favoritnya. Bertemu di final Hamburg Masters 2007, Federer menang 2-6, 6-2, 6-0.

Kemenangan Federer itu sekaligus menghentikan rentetan kemenangan Nadal di permukaan andalannya. Juga mencegah sang rival menyapu bersih titel Masters yang digelar di tanah liat.

Masih di tahun yang sama, dari Hamburg Nadal dan Federer membawa persaingannya ke final Wimbledon. Nadal bertekad membalas kekalahannya dan menundukkan Federer di arena rumput, yang jadi andalan petenis Swiss itu.

Namun tekad Nadal harus gagal. Meski mengerahkan penampilan terbaiknya, ia harus takluk 7-6, 4-6, 7-6 (3), 2-6, 6-2. Federer pun menyamai rekor Bjorn Borg dengan meraih titel Wimbledon kelima berturut-turut.



5. Wimbledon 2008

AFP
Wimbledon 2008 disebut-sebut sebagai salah satu pertandingan paling bersejarah dan terhebat antara keduanya. Laga ini juga jadi salah satu yang melelahkan, mengingat sempat dihentikan karena hujan dan perebutan poin sangat sengit.

Bertarung di permukaan rumput, Federer jelas diunggulkan. Tapi Nadal berhasil mematahkan prediksi dan menang 6-4, 6-4, 6-7, 6-7, 9-7 dalam laga yang berlangsung selama 4,8 jam.

Dengan titel ini, Nadal pun menyamai catatan Bjorn Borg sebagai petenis yang mampu mengawinkan titel Roland Garros dan Wimbledon di satu musim, atau disebut Channel Slam.

"Saya sangat senang, tapi saya juga bersedih untuknya, karena ia juga layak mendapatkan titel ini," kata Nadal kala itu.

Sementara Federer mengatakan, "Mungkin ini kekalahan terberat saya sejauh ini."



6. Australia Terbuka 2009

Getty Images
Meski ke final, Nadal tak diprediksi memenangi ajang ini. Sebab di babak final ia harus bertarung keras melawan Fernando Verdasco selama lebih dari lima jam.

Sementara Federer melaju ke final dengan mulus, setelah mengandaskan Andy Roddick di semifinal. Namun, prediksi hanya sebatas prediksi. Nadal mengalahkan Federer dengan 7-5, 3-6, 7-6, 3-6, 6-2 dan jadi orang Spanyol pertama yang meraih titel Australia Terbuka.

Kekalahan ini membuat Federer begitu kecewa, sampai-sampai meneteskan air mata di akhir pertandingan.



7. Final ATP World Tour 2010

Getty Images
Federer datang ke ajang ini dengan catatan enam kekalahan dari tujuh pertemuan terakhir kontra Nadal. Sementara Nadal baru saja meraih titel Amerika Terbuka.

Namun rupanya Federer tak inferior. Bersama pelatih baru Paul Annacone, ia tampil impresif dan menang 6-3, 3-6, 6-1. Petenis Swiss itupun mempertajam rekor di ajang tersebut menjadi 3-0 pada tahun ini.

Halaman 2 dari 8
Babak ketiga ajang Miami Masters 2004 menjadi awal rivalitas antara Nadal dan Federer. Keduanya untuk pertama kali saling berhadapan.

Kala itu Nadal baru berusia 17 tahun, dengan gaya yang disebut-sebut mirip dengan seniornya Carlos Moya yang sama-sama dari Spanyol. Menempati ranking 34 dunia, laga ini jadi ajang Nadal untuk memperkenalkan diri ke dunia, sekaligus kepada Federer sebagai petenis nomor satu waktu itu.

Meski tak diunggulkan, Nadal tak tampak canggung menghadapi Federer. Sementara di lain sisi, Federer yang berambisi melengkapi titel Australia Terbuka yang baru diraihnya terlihat kerepotan.

Dengan pukulan forehand-nya yang khas, Nadal akhirnya mampu mengalahkan Federer dengan dua set langsung 6-3, 6-3 dalam waktu 70 menit.



Nadal mulai menapaki kesuksesan di tahun 2005. Pada tahun ini, ia telah memenangi titel di Monte Carlo Masters, Barcelona Terbuka, dan Rome Masters. Menempati peringkat lima dunia, ia pun jadi incaran para rival.

Termasuk Federer, yang mendapatkan kesempatan untuk menghentikan laju Nadal di Prancis Terbuka. Berhadapan di semifinal, Federer sempat mencuri satu set dari lawannya asal Spanyol itu.

Namun pada akhirnya, Federer harus mengakui keunggulan Nadal. Petenis Swiss itu kalah 6-3, 4-6, 6-4, dan 6-3, setelah dicecar di sisi backhand.

Nadal kemudian melaju ke final dan mengalahkan Mariano Puerta untuk memenangi titel Roland Garros pertamanya.



Tahun 2006, persaingan Nadal dan Federer makin memanas. Dengan Nadal kini menempati urutan dua dunia sementara Federer bertahan di rangking, aroma gengsi pun mewarnai pertarungan di musim ini.

Bertemu di final Monte Carlo Masters, keduanya bertanding selama tiga jam 50 menit di mana Nadal berhasil menang 6-2 6-7 6-3 7-6. Nadal bahkan berhasil bangkit dari ketertinggalan 0-3 di tie-breaker terakhir.

Tiga pekan kemudian, keduanya kembali bertemu di final Roma Masters. Kali ini Nadal dan Federer bertarung sengit selama lebih dari lima jam. Nadal kembali berjaya di permukaan tanah liat, dengan 6-7, 7-6, 6-4, 2-6, 7-6.

Beberapa minggu berikutnya, duel kembali tersaji di final Prancis Terbuka. Ini merupakan final Roland Garros pertama Federer dan ia mengincar titel demi menyamai catatan Andre Agassi sebagai petenis yang meraih seluruh titel Grand Slam.

Tapi apa daya ia harus menunda mimpi tersebut jadi kenyataan. Sisi backhandnya kembali jadi incaran Nadal dan harus kalah 1-6, 6-1, 6-4, 7-6. Nadal pun memepertahankan gelarnya.

Meski demikian, tiga kekalahan tersebut berhasil di balas oleh Federer di Wimbledon. Jika Nadal menegaskan ia adalah raja tanah liat, Federer menyatakan dirinya sebagai penguasa lapangan rumput.

Meski sempat kehilangan satu set, Federer menutup laga dengan 6-0, 7-6, 6-7, 6-3 dan meraih titel Wimbledonnya yang keempat secara beruntun. Ia juga memperpanjang rekor kemenangan di arena rumput jadi 48 laga.



Setelah dua tahun selalu takluk di arena tanah liat, Federer akhirnya mampu memecahkan dominasi Nadal di permukaan favoritnya. Bertemu di final Hamburg Masters 2007, Federer menang 2-6, 6-2, 6-0.

Kemenangan Federer itu sekaligus menghentikan rentetan kemenangan Nadal di permukaan andalannya. Juga mencegah sang rival menyapu bersih titel Masters yang digelar di tanah liat.

Masih di tahun yang sama, dari Hamburg Nadal dan Federer membawa persaingannya ke final Wimbledon. Nadal bertekad membalas kekalahannya dan menundukkan Federer di arena rumput, yang jadi andalan petenis Swiss itu.

Namun tekad Nadal harus gagal. Meski mengerahkan penampilan terbaiknya, ia harus takluk 7-6, 4-6, 7-6 (3), 2-6, 6-2. Federer pun menyamai rekor Bjorn Borg dengan meraih titel Wimbledon kelima berturut-turut.



Wimbledon 2008 disebut-sebut sebagai salah satu pertandingan paling bersejarah dan terhebat antara keduanya. Laga ini juga jadi salah satu yang melelahkan, mengingat sempat dihentikan karena hujan dan perebutan poin sangat sengit.

Bertarung di permukaan rumput, Federer jelas diunggulkan. Tapi Nadal berhasil mematahkan prediksi dan menang 6-4, 6-4, 6-7, 6-7, 9-7 dalam laga yang berlangsung selama 4,8 jam.

Dengan titel ini, Nadal pun menyamai catatan Bjorn Borg sebagai petenis yang mampu mengawinkan titel Roland Garros dan Wimbledon di satu musim, atau disebut Channel Slam.

"Saya sangat senang, tapi saya juga bersedih untuknya, karena ia juga layak mendapatkan titel ini," kata Nadal kala itu.

Sementara Federer mengatakan, "Mungkin ini kekalahan terberat saya sejauh ini."



Meski ke final, Nadal tak diprediksi memenangi ajang ini. Sebab di babak final ia harus bertarung keras melawan Fernando Verdasco selama lebih dari lima jam.

Sementara Federer melaju ke final dengan mulus, setelah mengandaskan Andy Roddick di semifinal. Namun, prediksi hanya sebatas prediksi. Nadal mengalahkan Federer dengan 7-5, 3-6, 7-6, 3-6, 6-2 dan jadi orang Spanyol pertama yang meraih titel Australia Terbuka.

Kekalahan ini membuat Federer begitu kecewa, sampai-sampai meneteskan air mata di akhir pertandingan.



Federer datang ke ajang ini dengan catatan enam kekalahan dari tujuh pertemuan terakhir kontra Nadal. Sementara Nadal baru saja meraih titel Amerika Terbuka.

Namun rupanya Federer tak inferior. Bersama pelatih baru Paul Annacone, ia tampil impresif dan menang 6-3, 3-6, 6-1. Petenis Swiss itupun mempertajam rekor di ajang tersebut menjadi 3-0 pada tahun ini.

(raw/a2s)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads