Tak ada perayaan kemenangan yang berlebihan dari Stanislas Wawrinka saat untuk pertama kalinya menjuarai Australia Terbuka, meskipun baginya itu adalah sebuah mimpi yang luar biasa.
Begitu pukulan kerasnya tak bisa dikembalikan Rafael Nadal, lawannya di final Minggu (26/1/2014) petang, Wawrinka mencetak sejarah. Ia memenangi final turnamen Grand Slam pertamanya, dan menjadi orang Swiss ketiga yang pernah menjuarai Grand Slam setelah Martina Hingis dan Roger Federer.
Tak hanya itu, pria 28 tahun itu bahkan menjadi orang pertama sejak 1993 yang memenangi final sebuah turnamen Grand Slam dengan mengalahkan unggulan pertama dan kedua.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Orang terakhir yang membuat catatan tersebut adalah Sergi Bruguera di Prancis Terbuka 1993. Kala itu ia menundukkan unggulan pertama Pete Sampras di babak 8 besar, lalu mengandaskan unggulan kedua Jim Courier di partai puncak.
Wawrinka meraih trofi besar pertamanya ini dengan sedikit "drama". Sebabnya, Nadal mengalami cedera punggung bawah (lower back) di awal-awal set kedua, dan terus bertarung dengan menahan rasa sakit.
Meski demikian Wawrinka tidak begitu saja bisa menghabisi Nadal lebih cepat. Ia sempat terlihat kehilangan konsentrasi sehingga kalah di set kedua, setelah memenangi dua set pertama. Apakah ia agak "tidak tega" untuk meladeni lawannya seperti itu, hal itu tentu saja tidak bisa dipastikan. Yang jelas Nadal buatnya bukan semata-mata "musuh". Mereka dikenal berteman dekat di luar lapangan.
Maka ketika pertandingan selesai, ekspresi perayaan Wawrinka tidak seperti orang yang baru pertama kali jadi juara. Ia "cukup" mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, tidak dengan tawa lebar.
Segera ia berjalan ke depan net, menanti Nadal. Mereka lalu bersalaman. Wawrinka seperti menanyakan sesuatu kepada Nadal, "apakah kamu baik-baik saja?" Nadal tersenyum. Mereka dua kali berpelukan di tengah lapangan, disaksikan ribuan penonton dan jutaan pasang mata melalui layar televisi.
Setelah itu Wawrinka menghampiri tim dan keluarganya di sektor penonton, berbagi suka cita.
"Pertama-tama, Rafa, saya sangat menyesal. Saya harap punggung kamu baik-baik saja. Kamu teman yang luar biasa, seorang juara yang hebat," demikian Wawrinka dalam pidato kemenangannya.
"Kamu telah melakukan comeback yang mengagumkan tahun lalu. Buat saya, ini Grand Slam terbaik."
Wawrinka sebelumnya hanya memiliki lima gelar juara, plus satu medali emas Olimpiade 2008 di nomor ganda putra, berpasangan dengan Federer. Setelah ini ia akan menjadi pemain nomor tiga dunia, peringkat tertinggi dalam kariernya.
Dengan demikian, untuk pertama kalinya dalam 13 tahun, petenis nomor satu Swiss bukan lagi Federer, melainkan Wawrinka. Federer sendiri dipastikan turun ke posisi nomor delapan, setelah dirinya dihentikan Nadal di babak semifinal.
"Sekarang saya masih belum tahu apakah saya sedang bermimpi. Saya kira saya baru akan mengetahuinya besok pagi," ucap Wawrinka lagi, setengah berkelakar.
Selamat, Stan.
(a2s/din)











































