Di Tanah Air bulutangkis merupakan olahraga yang populer dan sudah menyumbangkan sederet prestasi. Tetapi untuk memainkannya dengan baik dan benar, rupanya bukan perkara mudah bahkan untuk para guru olahraga sekalipun.
Faktanya dari 30 peserta Milo Ayo Olahraga di GOR Bulutangkis Dempo, Jakabaring, Palembang, Selasa (18/2/2014), hanya empat orang yang terbiasa memainkan bulutangkis. Tak sedikit yang bahkan baru pertama kali ini memegang raket.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dengan pelatihan ini saya bisa mengevaluasi kekurangan. MAlah saya baru tahu ada 12 langkah berbeda yang harus dikuasai. Setelah ini saya jadi tertantang untuk menularkan teknik dasar ini kepada anak didik di sekolah," ujar pria berusia 44 tahun yang juga wasit nasional tenis meja itu.
Lain lagi pengalaman Komalasari. Guru olahraga SDN 149 Palembang itu mendapatkan pengalaman pertama memegang raket dan shuttlecock setelah 20 tahun menjadi guru olahraga--karena memang bulutangkis tidak diajarkan di tempatnya. Pengalaman itu rupanya langsung bikin perempuan 52 tahun itu jatuh cinta.
"Ternyata tidak sesulit yang saya bayangkan. PBSI mengajarkan dengan cara menyenangkan. Seperti mengganti shuttlecock dengan balon lebih dulu pergerakan bola lebih lambat," ujar Komalasari.
"Saya langsung jatuh cinta sama olahraga ini. Biasanya senang nonton di televisi saja. Bulutangkis tak pernah diajarkan di sekolah. Voli dan kasti yang biasanya dimainkan," tuturnya.
Shuttle time menjadi salah satu program yang digagas Federasi Bulutangkis Dunia (BWF) karena risau ada penurunan minat anak-anak bermain bulutangkis. PBSI mengembangkannya lewat program pralevel. Program itu sendiri bertujuan untuk memperkenalkan bulutangkis sebagai olahraga yang menyenangkan bagi anak-anak. Salah satunya dengan memanfaatkan balon.
(fem/krs)











































