Untuk ukuran orang Eropa, cuaca 3 derajat Celcius mungkin relatif biasa. Tentu berbeda buat para pebulutangkis dari Indonesia yang merupakan negara tropis.
Maka bukan cuma mesti menaklukkan lawannya di atas lapangan All England, para atlet Indonesia juga harus melawan cuaca dingin di Birmingham, kota tempat berlangsungnya turnamen bergengsi itu.
Pada siang hari suhu di Birmingham tercatat sekitar 3 derajat Celcius, sedangkan di malam suhu bisa menyentuh nol derajat Celcius. Hawa kian terasa dingin karena Birmingham juga cukup berangin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pada pertandingan pertama tubuh saya terasa agak kaku, jadi mengganggu pergerakan di lapangan. Mungkin karena cuaca yang dingin. Berarti saya mesti melakukan pemanasan lebih lama lagi dari biasanya," ungkap atlet ganda campuran Indonesia Praveen Jordan dalam rilis pers PBSI.
"Cuaca dingin membawa pengaruh buat saya. Engkel kaki saya terasa ngilu. Mungkin karena ini pertandingan pertama jadi tubuh juga masih beradaptasi. Ini menjadi bahan pembelajaran, selanjutnya saya mesti lebih panas sebelum memasuki lapangan pertandingan," sambung pemain ganda putri Tiara Rosalia Nuraidah.
Selain memaksimalkan pemanasan, para pemain Indonesia pun berusaha mengantisipasi dengan menjaga asupan makananan agar kondisi tubuh tetap prima. PBSI juga telah membekali mereka dengan suplemen serta vitamin yang dapat menjaga daya tahan tubuh. Para pelatih pun senantiasa mengingatkan para pemainnya agar makan tepat waktu, menggunakan jaket tebal, atau segera mengganti baju usai bertanding.
(krs/nds)











































