Ihsan Maulana Mustofa: The Next Big Thing di Bulutangkis Indonesia

Piala Thomas-Uber

Ihsan Maulana Mustofa: The Next Big Thing di Bulutangkis Indonesia

- Sport
Senin, 05 Mei 2014 08:54 WIB
Ihsan Maulana Mustofa: The Next Big Thing di Bulutangkis Indonesia
detikSport/Femidiah
Jakarta - Di antara pebulutangkis pengisi skuat Piala Thomas Indonesia ada satu nama baru yang menyeruak. Baru berusia 18 tahun, Ihsan Maulana Mustofa disebut sebagai The next big thing di bulutangkis Indonesia. Siapa dia?
Β 
Perasaan pemuda berambut jabrik dan bermata sipit itu pada Rabu (30/4/2014) petang benar-benar campur aduk. Tak percaya, kaget dan bahagia jadi satu setelah mendengar pengumuman dari Chef De Mission tim Thomas Uber Indonesia, Anton Subowo.
Β 
Buru-buru dia mengambil ponsel, mencari nomor bapaknya, dan mengabarkan berita gembira. Dia bilang namanya tercantum dalam jajaran pemain 'Merah Putih' ke Piala Thomas 2014. Nama dia ada di antara pebulutangkis papan atas putra negeri ini seperti Tommy Sugiarto, Dionysius Hayom Rumbaka dan Simon Santoso.
Β 
"Papa ikut senang. Dia minta saya tak menyia-nyiakan kepercayaan pelatih dan manajer tim," kata Ihsan dalam perbincangan dengan detikSport.

Baru berusia 18 tahun, sosok Ihsan memang belum banyak yang tahu. Tapi bukan berarti dia tak punya prestasi karena dalam beberapa bulan terakhir dia memiliki trek rekor yang memuaskan di berbagai kompetisi yang diikuti. Pemuda kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat 18 tahun silam itu memang 'hanya' membawa pulang medali perunggu dari kejuaraan Dunia Junior 2013. Tapi tahun ini dia mulai menjadi kuda hitam di kelompok dewasa tingkat nasional.
Β 
Faktanya, Ihsan adalah runner-up Pertamina Terbuka 2013 dan semifinalis Kejuaraan Nasional di tahun yang sama. Pada dua turnamen itu Ihsan naik kelas ke kelompok dewasa.
Β 
Ketua Bidang Pembinaan Prestasi PP PBSI Rexy Mainaky menyebut Ihsan sebagai 'the next big thing'. Ketekunan, kerja keras dan dipadu polesan ciamik dari barisan pelatih yang mumpuni diyakini bisa mengorbitkan prestasi pebulutangkis dari PB Djarum Kudus ini.
Β 
Ihsan sendiri tak sesumbar. Sejatinya dia malah berharap bisa mengisi tim inti Thomas tahun ini. Bahkan setelah membuat kejutan dalam Simulasi Piala Thomas di GOR Sritex, Solo, Jawa Tengah 26 April dengan mengalahkan pemain senior Sony Dwi Kuncoro, Ihsan tak yakin bisa berangkat ke New Delhi.
Β 
"Tahun ini mungkin belum. Tapi dua tahun lagi, saya sudah harus menjadi salah satu pemain yang ada di tim Thomas. Saya mengincar itu," kata Ihsan di Solo, pekan lalu.

Karena itulah dia mengaku sangat terkejut ketika namanya ternyata masuk dalam skuat Piala Thomas Indonesia.
Β 
"Ada faktor rejeki saya bisa masuk tim inti sekarang. Saya sempat cedera engkel dan habis operasi tulang kelingking kaki kanan. Lagipula ada pemain-pemain di atas saya. Ada Mas Sony, Wisnu Yuli, dan Riyanto (Subagja)."
Β 
"Saya tidak tahu alasan terpilih, tapi saya akan jawab tantangan ini. Buat saya ini bukan beban, tapi sebuah tantangan," ujar lulusan SMA Kanisius Kudus itu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Semua Berawal dari Uang Receh
Β 
Tak hanya menjawab tantangan dari PBSI, Ihsan rupanya juga ingin memberikan pembuktikan kepada ayahnya.
Β 
Ingatan Ihsan terkait kariernya sebagai pemain bulutangkis profesional membawanya ke masa anak-anak. Pada awalnya dia tak punya hasrat pada olahraga tepok bulu. Namun karena butuh uang jajan, Ihsan kecil terpaksa pergi ke lapangan bulutangkis untuk meminta receh dari ayahnya yang menjadi pelatih di sana.

Ketika itu Ihsan baru menginjak kelas 3 Sekolah Dasar Negri Pagerageung. Ayah dan ibunya kompak tak memberikan uang jajan cuma-cuma.
Β 
"Sudah sampai di GOR ya tetap nggak langsung dapat uangnya. Disuruh-suruh dulu buat main bulutangkis baru dikasih uang. Atau diminta buat mengumpulkan shuttlecock bekas latihan orang lain," kenang Ihsan.
Β 
"Pokoknya semua ini gara-gara bapak," selorohnya dia.
Β 
Tapi strategi kedua orang tuanya ternyata ampuh membuat Ihsan tertarik dengan bulutangkis. Ihsan kian hari kian menyukai bulutangkis. "Hobi lain nonton. Olahraga ya bulutangkis, tidak ada lagi," jelas putra pasangan Mustofa dan Agustina ini.
Β 
Tak cuma mendapatkan sentuhan Mustofa, Ihsan kemudian mendapatkan pelatih baru setelah dia bergabung dengan Dian Jaya Jakarta. Dalam perjalanannya, Ihsan memimpikan bisa bergabung dalam satu klub bulutangkis raksasa tanah air: PB Djarum Kudus.
Β 
Empat tahun lalu, saat usianya 14 tahun dan remaja seusia lebih senang kumpul-kumpul dengan teman-teman di sekolah atau nongkrong di cafe, Ihsan memilih meninggalkan Jakarta dan menuju kota kecil di daerah pantura. Yang dituju adalah Kudus, di Jawa Tengah. Tempat di mana PB Djarum Kudus berada.

Ihsan datang bukan untuk ikut Audisi, sebagaimana PB Djarum membangun tradisi untuk menyaring siswa baru. Ihsan datang melamar.

Kesempatan emas lain untuknya datang di tahun 2012. Ihsan tampil gemilang di Kejuaraan Nasional 2012 di Solo, JawaTengah. Dia jadi juara di kelompok taruna. Tiket ke pelatnas 2013 pun dituai cuma-cuma. Ihsan tak perlu lagi merangkak lewat seleksi di awal tahun.
Β 
Kini, kesempatan lebih besar sampai dalam genggaman Ihsan. Sebagai tunggal keempat, peluang Ihsan diturunkan terbilang tipis. Namun tentu saja dia punya kans untuk dimainkan, terutama di babak penyisihan.

"Ihsan sudah kami ajak bicara dan dia siap berkomitmen untuk memberikan yang terbaik," kata Rexy.

Ayo Ihsan, saatnya memberi bukti!

(fem/din)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads