Aturan Baru Thomas-Uber sebagai Upaya Hapus Pengaturan Skor

Piala Thomas-Uber

Aturan Baru Thomas-Uber sebagai Upaya Hapus Pengaturan Skor

- Sport
Rabu, 21 Mei 2014 01:56 WIB
Aturan Baru Thomas-Uber sebagai Upaya Hapus Pengaturan Skor
PB PBSI
Jakarta - Federasi Bulutangkis Dunia (BWF) terus mencari formula ideal untuk menghilangkan pengaturan skor. Sebuah aturan baru pun diterapkan, yang menuntut kontestan lebih kompetitif sejak jauh-jauh hari dan meminimalkan main mata.
Β 
Desember lalu, BWF memperbarui aturan kelolosan ke Piala Thomas-Uber. Baru kali ini peserta putaran final tak perlu melewati kualifikasi, tapi tiket ditentukan lewat ranking negara.
Β 
Sebanyak 16 negara yang lolos (Thomas dan Uber) akan bertarung di putaran final. Kali ini, ajang bergulir di Siri Fort Squash & Badminton Stadium, New Delhi.
Β 
Ke-16 tim itu dibagi ke dalam empat grup dan harus bertarung dengan sistem round robin. Empat tim berstatus juara grup dan empat runner akan lolos ke perempatfinal. Di perempatfinal itulah ada aturan baru yang diterapkan.

Dari para juara grup akan dipilih dua tim yang akan dijadikan sebagai unggulan pertama dan unggulan kedua. Dalam bagan kompetisi, unggulan pertama dan unggulan kedua ditempatkan di paruh yang berbeda. Hal itu membuat peluang dua tim unggulan bertemu cuma di partai final.

Lalu bagaimana menentukan unggulan pertama dan unggulan kedua? BWF akan melihat akumulasi poin dari tiga pemain tunggal dan dua ganda terbaik dari empat tim juara grup per-15 Mei. Tim dengan poin tertinggi akan jadi unggulan pertama dan seterusnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jika unggulan pertama dan kedua ditempatkan pada paruh bagan yang berbeda, unggulan ketiga dan keempat akan melalui pengundian untuk menentukan posisi mereka pada bagan pertandingan. Unggulan tiga dan empat juga ditentukan dari akumulasi poin.

Bagaimana dengan nasib empat tim runner-up? Untuk mengetahui juara grup mana yang akan dihadapi, seluruh tim yang berstatus runner up akan diundi. Intinya, para juara grup bisa berhadapan dengan runner up dari grup manapun. Termasuk dari grupnya sendiri.
Β 
Christian Hadinata, manajer tim Thomas, menyambut positif perubahan sistem pertandingan itu. Meski, aturan itu memaksa tim untuk bersiap sejak awal.
Β 
"Ini untuk menghindrai main mata. Selain itu aturan ini bisa memaksa negara-negara untuk menggenjot para pemainnya tampil maksimal di turnamen perorangan sejak jauh-jauh hari," kata Christian.
Β 
Imelda Wiguna, manajer tim Uber, melihat ada semangat lain yang harus dibawa tim dengan aturan itu.
Β 
"Kalau mau aman ya harus juara grup. Tidak boleh tidak. Kalau hanya runner-up maka jalan ke semifinal akan makin sulit," ucap Imelda.
Β 
"Selain itu perjalanan ke sini juga diperhitungkan. Kalau cuma jadi unggulan tiga atau keempat juga belum oke. Mau tidak mau paling aman ya jadi juara grup dan bisa jadi unggulan pertama atau kedua," jelas Imelda.

(fem/din)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads