"Pertama kali saya bertemu dengan Tami itu tahun 2007-2008. Saat itu, ayahnya Tami, Olivier Nicholas Grende menawarkan anaknya agar bisa diberi pelatihan lebih untuk meningkatkan pola permainan tenisnya," cerita Nunung dalam obrolannya dengan detikSport.
Saat itu, kata Nunung, meski usainya baru menginjak 9 tahun. Namun Tami berbeda dengan yang lain. Ia melihat gadis ini punya potensi sebagai petenis handal pada masa yang akan datang. Apalagi, secara dasar dia sudah memiliki bakat untuk menjadi seorang petenis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selama lima hari dalam seminggu Tami melahap latihan fisik dan teknik. Dengan komposisi 80 persen latihan fisik sementara sisanya latihan teknik.
"Kalau dulu mungkin porsi untuk tekniknya 60 persen, fisik 40 persen. Tapi sekarang lebih banyak di fisik," kata Olivier menanggapi porsi latihan untuk petenis rangking 53 di dunia itu.
"Latihannya full. Pagi sebelum sekolah dia latihan pukul 5:30 WIB sampai pukul 07:00 WIB. Lalu brangkat sekolah, setelah itu pukul 14.00 WIB dia pulang sekolah, latihan lagi sampai 19.00 WIB malam," urai Olivier.
Lantas bagaimana Tami membagi waktu sekolah dengan latihan?
"Kebetulan di sekolahnya ada program latihan atlet di Bali. Jadi dia bisa berjalan belajar online juga," tambahnya.
"Secara prestasi sekolah dia juga cukup bagus. Walaupun hampir 85 persen, teman-temannya orang China. Tapi dia juga bisa berprestasi," katanya.
Ia pun berharap prestasi ini tetap bisa terus meningkat. Hanya memang belum bisa untuk langsung terjun ke petenis professional.
"Tami itu masih harus menjalani masa transisi. Artinya tidam bisa laangsung ke professional. Mesti menjalani turnamen juniornya sampai 18 tahun. Lalu bisa ke professional. Kalau cepat masuk ke pro bisa susah. Intinya harus pelan-pelan naik," harapnya.
(mcy/din)











































