Marin mencetak sejarah setelah memenangi Kejuaraan Dunia akhir bulan kemarin. Dia jadi pebulutangkis putri pertama dari Spanyol yang meraih gelar tersebut, mengalahkan unggulan pertama sekaligus pemain nomor satu dunia Li Xuerui.
Kesuksesan Marin sendiri jadi sebuah 'tamparan' untuk atlet bulutangkis putri Indonesia. Perempuan 21 tahun itu sebelumnya sempat 'berguru' ke Cipayung. Namun saat atlet-atlet Indonesia gagal, Marin justru tak disangka-sangka mampu melenggang ke tangga juara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara Indonesia kering prestasi di sektor ini, China sejauh ini jadi penguasa. Namun di satu sisi, ada celah yang sejatinya bisa dimanfaatkan oleh para pemain tunggal putri melihat keberhasilan Marin menjinakkan andalan Cina.
"Juaranya Marin justru jadi semangat baru. Kita sebelumnya selalu takut dengan China. (Berpikir) Mereka juara, kuat, rangking 1. Padahal sebenarnya tidak perlu ada yang ditakutkan setelah melihat Marin. Sebelumnya juga ada Ratchanok (Intanon)," kata Susi Susanti kepada para wartawan, dalam konferensi pers audisi Djarum beasiswa bulutangkis, Kamis (4/9/2014).
"Indonesia sebenarnya punya kemampuan. Dengan Marin juara, seharusnya memberikan motivasi. Kalau kita mau berusaha keras, pasti kita bisa. Secara teknik kita tidak kalah jauh," tambahnya.
"Jadi ini merupakan momen penting untuk para pemain putri Indonesia," tandas peraih medali emas Olimpiade 1992 ini.
Lebih lanjut, Susi menilai bahwa kendala para juniornya saat ini seringkali adalah soal mental. Padahal dia menilai, kemampuan para pebulutangkis putri Indonesia sudah cukup baik. Sedikit kerja keras dan tekad diyakini bisa memberikan hasil bagus.
"Zaman saya, Sarwendah (Kusumawardani), Yuliani (Santosa), kita punya keinginan kuat juara dan tak pernah liat rangking satu atau titel juara dunia. Saat bermain ya kita tampil lepas, nothing to lose. Pokoknya nekat aja," lanjut istri Alan Budikusuma ini.
"Mungkin kalau saat ini, mindset dari atlet-atlet kita yang musti diubah. Seringkali ketakutan diri sendiri yang mengalahkan. Mereka kalah dahulu sebelum bermain."
"Saya rasa, yang diperlukan saat ini adalah bisa melawan diri sendiri. Sektor putra juga sama sebenarnya, untuk juara perlu kerja keras karena tidak ada yang didapatkan dengan mudah," ungkap Susi.
Sementara itu, pemain legendaris Indonesia Christian Hadinata menyebut keringnya prestasi tunggal putri Indonesia saat ini disebabkan Susi. Tentu bukan dalam maksud yang sesungguhnya.
"Sebenarnya ini salah Susi. Karena dulu Susi terlalu bagus. Jadi pembandingnya berat. Ini salah Susi," seloroh Christian.
(raw/nds)











































