Setelah melewati tiga fase dalam karier bulutangkis, Taufik Hidayat memutuskan untuk gantung raket di tahun 2013. Dari pengalaman itu, suami Ami Gumelar tersebut meminta agar anak-anak jaman sekarang tak takut untuk jadi atlet lewat surat terbuka.
Taufik yang masih bocah tak habis pikir kenapa sang ayah, Aries Haris, tega membiarkan dia turun di tengah jalan antara Pengalengan-Bandung. Padahal GOR SGS Bandung, tempatnya berlatih, masih cukup jauh. Apalagi ayahnya selalu memeriksa setiap kantong celana sebelum menurunkan dari angkutan antarkota itu.
Sudah begitu dia akan terlambat mengikuti latihan jika berjalan kaki. Maka dia pun tak punya pilihan. Dia harus berlari. Waktu berjalan dan Taufik menjadi paham. Ayahnya ingin dia punya fisik dan mental yang oke. Taufik menyambut dengan tekad menjadi pemain top.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berikut ungkapan hati Taufik atas pengalaman selama bertahun-tahun yang ditulisnya sendiri, sebagaimana diterima oleh redaksi detiksport, Kamis (25/9/2014):
"Sebagai atlet, saya sudah mengalami tiga fase kehidupan. Fase pertama ketika saya bermimpi menjadi seorang atlet yang pada awalnya saya lebih tertarik untuk menekuni dunia sepak bola.
Namun orang tua memberi dorongan kepada saya bahwa bulutangkis Indonesia mampu mengharumkan nama bangsa ditingkat dunia, maka saya pun serius menggeluti bulutangkis. Saya berkeinginan untuk bisa menorehkan prestasi seperti Rexy Mainaky, Ricky Soebagdja dan juga Rudi Hartono.
Fase kedua saya adalah di mana saya berjuang untuk bisa jadi atlet nomor satu dunia. Saya memiliki komitmen kuat pada orang tua dan selalu menegaskan bahwa saya tidak ingin menjadi atlet yang biasa-biasa saja. Dari situlah saya terus bekerja keras setiap harinya sehingga akhirnya mampu meraih satu demi satu gelar juara.
Dalam perjalanan tersebut, saya mulai menyadari bahwa profesi atlet hanyalah jembatan hidup yang memiliki batas waktu, karena itulah saya sejak jauh-jauh hari sudah menetapkan langkah dan pikiran tentang apa yang akan saya lakukan nantinya.
Fase ketiga saya adalah fase pensiun sebagai seorang atlet dan saat itu saya tidak kaget karena sudah melakukan persiapan yang matang. Saya bisa menikmati fase kehidupan setelah pensiun dan tetap mencoba memberikan kontribusi terhadap bulu tangkis, di mana nama saya dibesarkan dan dikenal banyak orang.
Melihat perjalanan hidup saya, satu hal penting yang bisa dilihat adalah peran orang tua sebagai salah satu kunci keberhasilan seorang atlet untuk memiliki prestasi di tingkat dunia. Saya melihat di Indonesia masih banyak orang tua yang bermimpi anaknya merintis jalan menjadi atlet profesional yang berprestasi.
Meski teknologi maju seperti apapun, olahraga tetap memiliki daya tarik tersendiri. Saya sangat percaya, di luar prestasi, banyak orang tua yang menginginkan anaknya hidup sehat dan memiliki sportivitas. Hal itulah yang dapat dipelajari di olahraga.
Saya yakin bahwa Indonesia tidak akan pernah kekurangan sumber daya manusia sebagai syarat utama lahirnya proses regenerasi. Dalam bulutangkis, saya selalu melihat bahwa Indonesia mempunyai anak-anak muda yang memiliki talenta, semangat, dan daya juang yang hebat untuk mewujudkan mimpi mereka menjadi seorang pebulutangkis.
Saya bangga dapat menjadi bagian dari MILO School Competition, sebagai salah satu pihak swasta yang peduli dengan konsisten terhadap perkembangan bulu tangkis di Indonesia selama lebih dari 10 tahun.
Saya merasa sangat terhormat karena terus dipercaya menjadi Duta MILO School Competition sejak masih aktif menjadi atlet hingga pensiun. Kami menghadirkan kompetisi tingkat sekolah dalam mencari bibit muda yang berkualitas dan berprestasi. Hal ini adalah sebuah syarat mutlak untuk lahirnya seorang juara sejati yang memiliki karakter dan teknik permainan bulu tangkis yang baik.
Demikian sudut pandang saya sebagai seorang atlet yang telah pensiun saat ini. Sebagai seorang atlet, tentunya memiliki batasan baik dari segi umur, waktu dan masa keemasan. Tetapi hal itu tentunya tidak menghalangi mereka yang tetap ingin memberikan kontribusi setelah tak bisa lagi aktif sebagai atlet di lapangan. Saya coba mendedikasikan Taufik Hidayat Arena dan MILO School Competition dengan harapan nantinya dapat melahirkan bibit-bibit bulutangkis Indonesia di masa depan.
Setelah pensiun ini tak lupa saya tiupkan harapan bahwa olahraga Indonesia semakin berkembang. Walaupun masih banyak masyarakat yang pesimistis bahwa olahraga tidak bisa dijadikan pegangan hidup, hal itu tidaklah benar. Dengan semangat, ketekunan, disiplin, dan kerja keras, terlebih jika tetap ditambah sekolah, seorang atlet pun bisa mendapatkan jaminan masa depan.
Melalui tulisan ini saya memberikan dukungan penuh kepada para atlet yang sedang berjuang di Asian Games 2014 di Korea Selatan. Semoga hal ini bisa jadi momentum bagi seluruh rakyat Indonesia mulai dari atlet, KONI, KOI, Pemerintah dan Kemenpora, serta masyarakat umum untuk makin bersatu, memberikan support dan memberikan dukungan bagi kemajuan olahraga Indonesia!!
Semoga Indonesia Bisa Berprestasi di Asian Games 2014 dan tentunya di event-event olahraga internasional lainnya!! Salam olahraga!!!"
Taufik Hidayat
(fem/a2s)











































