Dalam partai final lawan pasangan China Zhang Nan/Zhao Yunlei, Senin (29/9/2014), Owi/Butet menyerah 16-21, 14-21. Medali emas pun digondol pasangan unggulan pertama itu sedangkan Owi/Butet, yang jadi unggulan ketiga, berhak atas medali perak.
"Kami sudah tampil baik di babak pertama hingga semifinal. Di babak pertama laga final pun kami sudah bermain bagus, namun sayang kami membuat kesalahan-kesalahan sendiri. Lawan yang sudah under pressure menjadi percaya diri. Kami kecewa dengan hasil ini karena seharusnya kami bisa menang," kata Liliyana dalam rilis dari Tim Humas Dan Social Media PP PBSI yang diterima detikSport.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam pertandingan tersebut Owi/Butet sebenarnya sempat memimpin cukup mencolok di game pertama. Tetapi lawan perlahan mengejar dan bahkan berbalik unggul sampai akhirnya merebut game itu.
"Saat posisi 13-7 di game pertama, Tontowi gagal mematikan dua bola tanggung, dan habis itu gagal lagi karena raketnya putus. Tontowi menyesali ini, saya sudah ingatkan dia jangan ingat-ingat kesalahan tadi. Ternyata dia masih belum bisa melupakan game pertama dan dia kecewa, permainannya langsung berubah," ungkap Richard Mainaky, pelatih Tontowi/Liliyana.
Pada game kedua Owi/Butet tak kuasa bangkit dan membalas. Apalagi saat itu kondisi lapangan dikatakan kian menyulitkan keduanya. "Ditambah lagi pada game kedua Tontowi/Liliyana dapat lapangan yang melawan arah angin, jadi makin susah. Kalau berhadapan dengan pasangan Tiongkok ini, Tontowi/Liliyana seharusnya menekan terus dari awal, jangan kasih kesempatan sama sekali," sebut Richard.
(krs/roz)











































