Serena memang datang ke WTA Finals yang digulirkan di Singapura tersebut dengan kondisi kurang oke. Dia masih dibekap cedera lutut. Petenis nomor satu dunia itu juga memulai dengan hasil negatif. Serena digebuk petenis Rumania Simona Halep yang jauh lebih muda di laga perdana.
Tapi, Serena bisa bangkit. Kemenangan demi kemenangan diraih hingga menapal final Minggu (26/10/2014). Dia pun meraih juara sekaligus membalas kekalahan di laga pembuka itu dengan mengalahkan Halep hanya lewat pertandingan straight game 6-3, 6-0.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu sungguh luar biasa. Aku tak menyangka bakal mengakhiri tahun ini dengan hasil seperti ini. Aku senang sekali bisa berkompetisi di sini," kata Serena usai pertandingan dan dikutip Reuters.
"Itu membuat segalanya lebih manis dan memuaskan. Ini bukan tahun terbaikku, tapi aku senang bisa meraih gelar ini lagi tahun ini.
"Aku membuat banyak kesalahan di pertandingan pertama dan aku rasa tahu kalau dia mempunyai kemampuan dan kapasitas penampilan yang oke, makanya aku harus mendongkrak penampilanku.
"Aku tahu kalau aku harus tampil lebih baik, makanya aku harus lebih bagus lagi dbandingkan penampilan di babak pertama. Persiapan yang lebih oke sangat menentukan.
"Kekalahan di pertandingan pertama itu karena aku menjadi tahu apa yang harus aku perbuat tahun depan. Aku menjadi sangat paham dan siap menyongsong (kompetisi) tahun depan. So, aku tahu apa yang harus aku kerjakan di rumah dan dilakukan pada awal preseason," beber Serena.
Menilik hasil di turnamen Grand Slam, penampilan Serena memang kurang oke ketimbang dua tahun terakhir. Serena 'hanya' meraih satu gelar juara Geand Slam, yakni di Amerika Serikat. Padahal pada tahun 2012 dan 2013, Serena bisa mengoleksi dua gelar Grand Slam dalam satu tahun.
(fem/din)











































