Tak Ada Lagi Safin Yang Liar
Jumat, 28 Jan 2005 02:04 WIB
Jakarta - Dahulu Marat Safin sangat dikenal sebagai pemuda yang temperamen. Setahun 50 kali dia membanting raketnya. Tetapi kini Safin liar sudah tidak ada lagi.Mungkin Safin bercermin dari Andre Agassi, seorang yang di masa mudanya sangat emosional tetapi kemudian berubah menjadi ayah yang sangat perhatian pada keluarga."Kehidupan tidak bisa anda hadapi terlalu serius. Pada akhirnya nanti, ini hanyalah sebuah olahraga," demikian ucapan Safin beberapa hari lalu, setelah kemenangannya atas petenis Kroasia, Mario Ancic.Tahun 2000 lalu Safin sempat mencapai masa kejayaannya di tenis dengan menjuarai AS Terbuka dan menjadi petenis no.1. Namun catatan yang mungkin lebih menarik ialah, dalam tahun tersebut petenis asal Rusia itu 50 kali membanting raketnya saat pertandingan.Cedera yang dialaminya tahun 2003 merupakan cobaan terberat bagi prestasi profesional Safin. Tidak tanggung-tanggung, peringkatnya melorot hingga ke urutan 66. Namun masa-masa sulit itu justru menjadi jalan baginya untuk merefleksi diri, dan mengumpulkan kembali semangatnya untuk menjadi yang terbaik.Hari ini (Kamis, 27/1/2005) Safin genap berusia 25 tahun, usia yang sudah terbilang dewasa bagi ukuran manusia. "Saya semakin tua. Saya sudah seperempat abad di dunia ini. Setidaknya saya harus belajar sesuatu. Saya tidak menyesali apapun yang pernah saya lakukan, tidak sama sekali, karena saya ada saat ini karena itu semua. Saya pikir saya telah melewatinya, dan sekarang menjadi lebih sabar," ujarnya seperti dilansir Reuters.Ungkapan Safin itu dibuktikannya saat menghadapi petenis peringkat satu dunia, Roger Federer di semifinal Australia Terbuka 2005. Safin terlihat mampu mengendalikan emosinya dengan sangat baik, bahkan teramat baik. Saat forehand nya mengakhiri langkah rekor 26 kemenangan berturut-turut Federer, Safin hanya tersenyum lega tanpa teriakan atau bantingan raket, dan dengan tenang mendatangi lawannya untuk bersalaman."Ini adalah pertarungan pikiran satu sama lain. Dia Roger Federer, secara psikologi tentu sangat sulit. Dia membuat Anda selalu dalam tekanan, tidak peduli berapapun poin yang Anda peroleh. Saya telah tujuh kali kalah dari dia. Saat ini sangat sulit untuk menjelaskan apa yang saya rasakan," ujarnya. (lom/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































