Australia Terbuka mempunyai satu lagi keistimewaan yang sudah diakui dunia. Mereka dinilai memiliki anak-anak pemungut bola (ball kid) terbaik di antara turnamen-turnamen tenis sejagad.
"Saya bisa pamer ke teman-teman sekolah kalau saya menjadi ball kid di sini. Juga memasukkan dalam daftar kalau nanati melamar sebuah pekerjaan, dan bisa begitu dekat dengan petenis idola," kata George Carrey, salah satu ball kid Australia Terbuka 2015.
Sederet keistimewaan itu yang membuat Carrey bersemangat menjalankan tugas sebagai ball kid sejak babak penyisihan pekan lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Antusiasme serupa diungkapkan beberapa bocah yang sempat dijumpai detikSport di kawasan Melbourne Park. Biarpun harus berjemur matahari, bertarung dengan angin kencang dan suhu udara yang berubah dengan ekstrim setiap hari, mereka melakukannya dengan riang gembira. Selain memungut bola di pertandingan, tugas ball kid juga melayani pemain saat butuh handuk.
Tapi mereka tak bertugas terus-menerus dalam satu pertandingan. 12 anak yang bertugas dalam satu pertandingan dibagi menjadi dua tim. Nantinya, mereka bergantian bertugas setiap 45 menit.

Carrey mengatakan fisik dan mental mereka memang sudah disiapkan untuk bertugas di bawah terik matahari. Juga soal gerakan yang seragam satu anak dengan yang lainnya.
"Kami sudah dilatih selama sembilan bulan terakhir ini. Jadi sepertinya tak akan ada masalah," kata Carrey.
Sejak Maret tahun lalu Carrey dan 499 bocah berusia 12-15 tahun digodok dalam latihan ball kid menghadapi Australia Terbuka. Mereka adalah bocah-bocah terbaik dari 2.500 anak yang mendaftar kepada federasi tenis Australia.
"Saya tahu ada lowongan di situs resmi, kemudian saya mendaftar. Dari 2.500 anak kemudian didapatkan 500 anak yang dilatih bersama-sama. Latihannya tiga minggu sekali di akhir pekan. Kemudian, lolos 500 tapi yang dipanggil ada 380 anak untuk jadi ball kid," jelas Carrey.
Β
Lagipula, kebanyakan anak-anak yang bertugas jadi sudah akrab dengan tenis. Begitu pula Carrey yang sejak usia delapan tahun sudah berlatih tenis.
"Tapi tetap saja latihan cukup berat. Yang paling berat saat kami harus lari berkeliling area ini (Melbourne Park) empat kali. Sangat berat," kenang Carrey.
Antusiasme juga dirasakan duo bersaudara Nia dan Archie Harrison. Kakak beradik dari Horsham, salah satu kota yang masih di kawasan Victoria tersebut juga merasakan keuntungan lain menjadi ball kid.

"Akreditasi yang kami miliki bisa buat naik trem gratis. Kami juga mudah dikenali dengan seragam oranye ini," kata Ani.
Satu bonus didapatkan menjelang babak kualifikasi bergulir. Dia bersama ball kid lainnya selfie bersama-sama dua petenis, Maria Sharapova dan Thanasi Kokkinakis.
"Sebelumnya kami menjalani orientasi, termasuk tur keliling lapangan utama, diberi tahu di mana dan bagaimana menuju lapangan, lokasi tenda ball kid, kafe, makanan, dan lain-lain.
"Pas kami sampai di lapangan tenis, kami menandatangani dan melihat lapangan di mana kami akan ditempatkan," jelas Ani.
Tak melulu keuntungan yang dipikirkan anak-anak itu, mereka juga paham risiko besar yang bisa terjadi sewaktu-waktu. Dari yang sederhana terkena bola sampai pingsan akibat dehidrasi yang dialami salah satu ball kid tahun lalu.
"Awalnya gugup juga dengan banyaknya penonton, tapi lama-lama santai," ucap dia.
(fem/a2s)











































