Si "Gemuk-Gondrong" di Belakang Safin

Si "Gemuk-Gondrong" di Belakang Safin

- Sport
Senin, 31 Jan 2005 09:12 WIB
Jakarta - Anda yang rajin menonton pertandingan Marat Safin pasti hafal dengan sesosok gemuk berambut panjang dikucir kuda yang duduk di deretan penonton, yang terlihat begitu seksama mengikuti setiap gerakan Safin.Orang itu bernama Peter Lundgren, pelatih petenis Rusia yang akhirnya tampil sebagai juara di turnamen Grand Slam pembuka itu. Tropi yang direngkuh Safin pasti jadi kado ulang tahun yang spesial buat dirinya karena pada hari Sabtu lalu ia genap berusia 40 tahun.Yang menarik adalah Lundgren pernah menangani Roger Federer dan ikut mengantarkannya sebagai juara Wimbledon 2003. Namun ia didepak Federer pada Desember 2003, atau sebulan sebelum petenis Swiss itu menjuarai Australia Terbuka 2004. Dan seperti diketahui, Federer tahun ini ditumbangkan Safin di babak semifinal.Lundgren, pemain di era 80-an yang peringkat terbaiknya adalah 25, disebut-sebut sebagai tokoh kunci kesuksesan Safin di awal musim 2005 ini. Ia adalah orang yang sanggup meredam emosi meledak-ledak yang menjadi kebiasaan buruk pria Rusia berumur 25 tahun itu.Safin dulu adalah Safin yang liar. Pernah selama satu tahun ia membanting raketnya karena kesal sebanyak 50 kali. Kini ia berubah 180 derajat. Sesekali ia memang masih membuang raketnya (bukan membanting), termasuk tiga kali saat menghadapi Lleyton Hewitt di babak final, namun secara umum ia jauh terlihat tenang."Anda tak bisa menghadapi hidup ini dengan terlalu serius. Pada akhirnya tenis hanyalah sebuah olahraga," demikian filosofi baru Safin setelah menekuk petenis Kroasia Mario Ancic di babak perempatfinal. Safin, yang juga juara AS Terbuka 2000 dan pernah dilatih Mats Wilander, tak segan-segan memuji Lundgren sebagai sosok yang amat membantu memperbaiki performa dan prestasinya. "Dia membuatku percaya bahwa aku pemain yang bagus. Dan aku tak lagi ragu-ragu bahwa aku memang demikian. Dia pribadi yang sangat baik dan pelatih yang hebat.""Dia mencoba membuatku lebih fokus ke lapangan, tidak terlalu gila, tidak lepas kontrol. Sesekali aku masih merasa tak sabaran, tapi jauh berkurang dari yang dulu. Aku sekarang lebih tenang dan makin percaya diri.""Aku ingin sekali memenangi turnamen Grand Slam yang lain. Jika bisa terus seperti ini rasanya aku bisa melakukannya. Jika Peter masih bersamaku, dan ingin masih ingin bekerja sama denganku, kupikir aku sanggup melakukannya," tandas pemain peringkat empat dunia itu. (a2s/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads