Menghadapi pasangan China, Zhang Nan/Zhao Yunlei, di final, Minggu (8/3/2015) malam WIB, Tontowi/Liliyana yang merupakan juara bertahan harus takluk dua gim langsung, 10-21 dan 10-21.
Hasil ini sekaligus memupus asa pasangan yang akrab dipanggil Owi/Butet itu untuk meraih gelar keempat beruntun, setelah jadi juara sejak 2012. Padahal Zhang/Zhao sendiri selalu kalah di dua final terakhir dari Owi/Butet.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pencapaian di All England kali ini jelas jadi penurunan prestasi bagi Indonesia sekaligus awal yang kurang baik bagi para pebulutangkis nasional menjalani kalender kompetisi 2015.
Namun apapun hasil di All England kali ini, Owi/Butet dinilai sudah tampil maksimal dan tetap harus mendapat apresiasi. Meski nir gelar, ini dinilai sebagai alarm untuk PB PBSI sebagai induk olahraga agar segera berbenah untuk menghadapi turnamen-turnamen setelah ini, khususnya di level internasional seperti Olimpiade 2016 dan Asian Games 2018.
Dua pesta olahraga itu ini dinilai sangat prestisius mengingat Indonesia tanpa emas dari cabang bulutangkis di Olimpiade terakhir di London, plus akan jadi tuan rumah untuk perhelatan Asian Games berikutnya.
"Kita tetap bangga dengan pencapaian Tontowi/Liliyana sudah berjuang maksimal di final. Ganda campuran ini sudah melegenda di All England dan prestasi ini masih bisa ditingkatkan,β ujar Menpora, Imam Nahrawi, menyikapi hasil final All England
"Pemain muda pelapis dan pengganti pemain senior sudah harus disiapkan agar prestasi bulu tangkis Indonesia bisa kembali bersinar di kancah internasional. Bulu tangkis harus bisa merebut kembali emas Olimpiade dan berjaya di Asian Games 2018," sambungnya.
(mrp/din)











































