Tertinggalnya prestasi bulutangkis Indonesia belakangan ini membuat PP PBSI dituntut segera mengaplikasikan sport science dalam program pelatihan. PBSI mengakui hal itu penting meski peran pelatih tetaplah yang utama untuk menggembleng para atlet.
Hal itu disampaikan oleh Kepala Bidang Pelatnas PBSI, Ricky Subagja, menanggapi komentar dari eks pebulutangkis, Christian Hadinata, tentang pentingnya peran sport science di era olahraga modern saat ini.
Christian menyebut dunia olahraga Indonesia selama ini kerap lupa mengembangkan sport science, karena lengah lantaran selalu bisa jadi juara tanpa adanya sport science.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Seiring zaman kita ada sistem yang lebih baik. Kalau bicara program yg mengikuti jaman, dimana ada sport science, sejauh ini saya rasa tetap peran pelatnas kita percayakan penuh pada peran pelatih. Kami juga ada diskusi soal peran di lapangan. Di mana satu tahun kuota di kejuaraan ini serta target-targetnya," ujar Ricky dalam Sport Forum yang diadakan oleh detikSport di Gedung Aldevco, Warung Buncit Raya, Jakarta, Selasa (31/3).
"Yang pertama bahwa ada kasubid pelatnas. Direktur pelatnas di mana sebelumnya, guru saya pak Christian, sebetulnya yan tadi disampaikan konflik kami berjuang di pelatnas ini ada 66 atlet, di mana justru banyak pemain yg lebih muda," sambungnya.
Detiksport bekerja sama dengan PP PBSI dan Kemenpora mengadakan Sport Forum bertajuk "Bulutangkis Saat Ini dan Peluang di Piala Sudirman 2015".
Acara ini dimoderatori oleh dua kolumnis detikSport: Zen Rs dan Pangeran Siahaan, mulai jam 2 siang sampai pukul 16.00 WIB. Beberapa pembicara seperti Ketua Umum PP PBSI, Gita Wirjawan, serta mantan pemain, Taufik Hidayat, dan pengamat olahraga, Dr. Hari Setijono, juga hadir.
(mcy/mrp)











































