Alih-alih meraih juara, Indonesia sudah gagal mencapai final setelah disingkirkan tuan rumah dan juara bertahan, China dengan skor 1-3 di semifinal. Kekuatan yang tidak merata menjadi penyebab utama hasil negatif pasukan 'Merah Putih' itu.
Ketidakseriusan dalam regenerasi pun disorot. Kegagalan itu bukan hanya buah dari kerja lamban regenerasi di PBSI, tapi juga pemerintah yang kurang mendukung penuh Sekolah Olahraga Ragunan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pemain-pemain oke dihasilkan dari klub. Sudah semestinya PBSI mengajak bicara klub. Beberapa lainnya dari Ragunan yang sekolah itu malah bisa mendapatkan bibit-bibit dari klub-klub kecil. Itu juga perlu pemantauan.
"Makanya, pemerintah juga harus serius mengembangkan sekolah olahraga (Ragunan)," ucap mantan pebulutangkis yang ikut mengangkat trofi Piala Sudirman di tahun 1989 itu.
Final Piala Sudirman kali ini mempertemukan China dan Jepang. Bagi China, final itu membuka kesmepatan untuk meraih gelar kesepuluh, sedankan Jepang bakal mencetak sejarah untuk pertama kalinya menjadi juara Piala Sudirman.
(fem/a2s)











































