Pertarungan melawan petenis ranking satu dunia itu terjadi setelah Nadal mengalahkan petenis non unggulan asal Amerika Serikat Jack Sock 6-3, 6-1, 6-7, 6-2 di babak keempat. Sementara di partai lainnya, Djokovic sukses menang straight set atas petenis tuan rumah Richard Gasquet 6-1, 6-2, 6-3.
Di satu sisi, Djokovic sedang bagus-bagusnya. Pada 2015, petenis ranking satu dunia itu baru dua kali kalah dalam 41 pertandingannya di Doha dan Dubai Terbuka tapi sukses merebut titel Australia Terbuka serta tiga seri Masters secara beruntun; Indian Wells, Miami Masters, dan Monte Carlo Masters.
Selain itu, Djokovic masih mengusung misi menjuarai Prancis Terbuka, satu-satunya titel Grand Slam yang belum pernah diraihnya sepanjang karier dia.
Sementara itu situasi Nadal justru kurang meyakinkan. Petenis kidal Spanyol ini sudah sembilan kali kalah di musim ini dan belum sekalipun menjuarai turnamen besar di tanah liat, permukaan favoritnya.
Performa Nadal terlihat membaik sejak berlaga di Roland Garros dan baru kehilangan satu set dari empat pertandingan yang sudah dijalani. Faktor pendukung lainnya ialah keunggulan head to head atas Djokovic di turnamen (6-0) akan menambah moral 'Si Raja Tanah Liat'.
Bagaimanapun, Nadal baru bisa dianggap bangkit apabila mengalahkan Djokovic pada laga yang dianggap sebagai 'final kepagian' itu. Pembuktian ada di hadapan Nadal.
"Mungkin ini adalah laga perempatfinal tersulit dalam karierku di sini di Roland Garros, tidak diragukan lagi," ucap Nadal yang dikutip ESPN.
"Tapi ini bukan final. Pemenangnya pun belum tentu akan menjadi juara Roland Garros. Dia akan menjadi semifnalis," cetus juara turnamen sembilan kali itu.
(Okdwitya Karina Sari/Novitasari Dewi Salusi)











































