Keyakinan itu dilontarkan Wakil Presiden WTA Asia Pasifik Melissa Pine dalam acara coaching clinic di lapangan tenis Kemayoran, Jakarta, Kamis (11/6/2016).
Melissa sendiri sudah mempunyai sedikit gambaran potensi tenis Indonesia saat Indonesia meloloskan dua pemain junior, Shevita Aulana dan Rifanty Kahfiany, ke WTA Future Stars tahun lalu.
Maka kini ia datang ke Indonesia pertama-tama untuk lebih mengetahui potensi para petenis di Indonesia. Kedua dia berharap bisa lebih tahu program yang cocok untuk pengembangan tenis junior di Indonesia.
Dari coaching clinic yang dilakukan di sela-sela Junior International Championship itu, Melissa melihat betapa besar potensi para pemain. Teknik pukulan dinilai sudah oke. Dia sendiri heran, Indonesia tak lagi mempunyai petenis yang tampil di turnamen WTA saat ini.
"Indonesia mempunyai potensi petenis yang luar biasa. Semestinya sejak kecil mereka ditanamkan agar mempunyai mimpi dan tujuan yang jelas. Kadang kala memang terlihat tak mungkin dan akan ada pihak-pihak yang meremehkanmu. Bagaimanapun, anak-anak ini harus tetap fokus dengan misi," kata Melissa.
"Tak masalah dari manapun anak-anak ini tinggal dan berada. Akan ada hasil-hasil yang mengecewakan, kekalahan-kelahan di turnamen, tapi itu bisa jadi pelajaran berharga. Tak bisa dipungkiri ada korelasi antara negara yang mempunyai turnamen-turnamen besar dan tidak. Misalnya China yang sudah mempunyai China Open 2008. Sekarang, di tahun 2015, kami melihat ada petenis-petenis yang bermunculan dari China di samping Li Na."
"Dari turnamen besar itu anak-anak bisa menyaksikan langsung para petenis top yang hadir, menjadikan idola mereka di depan mata. Karena itu pula kami perbanyak turnamen di Asia. Setidaknya 40 persen turnamen tenis WTA kami laksanakan di Asia. Termasuk WTA Finals di Singapura. Kami bisa membawa turnamen WTA ke Indonesia asal infrastrukturnya memadai dan ada investor," tuturnya.
Dalam usaha Indonesia mencari The Next Yayuk Basuki, ia pun kembali menyatakan keyakinannya kendatipun saat ini dunia tenis Tanah Air ia duga sudah kehilangan sosok panutan lokal. Melissa juga menegaskan faktor fisik bukanlah kendala untuk pemain muda Indonesia yang ingin jadi petenis top masa depan.
"Local hero tak kalah penting. Saya rasa Indonesia kehilangan itu. Setelah Yayuk Basuki tak ada lagi petenis wanita yang tangguh. Postur badan tidak masalah. Yayuk tidak tinggi. Simona Halep juga tidak tinggi. Bisa kok seharusnya bisa," jelas Melissa.
(fem/krs)










































