Antusiasnya Berjumpa Lin Dan, Gembiranya Menjejak Jakarta

Kejuaraan Dunia Bulutangkis

Antusiasnya Berjumpa Lin Dan, Gembiranya Menjejak Jakarta

Femi Diah - Sport
Rabu, 12 Agu 2015 05:00 WIB
Antusiasnya Berjumpa Lin Dan, Gembiranya Menjejak Jakarta
Roberto Mallinedo (Femi Diah/Detiksport)
Jakarta - Para pebulutangkis di kawasan Amerika antusias menyambut Kejuaraan Dunia di Indonesia. Selain karena ingin bertarung dengan para pemain top, mereka juga terpengaruh faktor tuan rumah dengan Indonesia yang dikenal sebagai negara bulutangkis.

Bukannya menyebut undian tak menguntungkan, pebulutangkis Brasil, Daniel Paiola, justru gembira berjumpa Lin Dan di babak kedua, Rabu (12/8). Dia amat antusias akan berada dalam satu lapangan di Istora dengan pemilik lima gelar juara dunia dari China itu.

"Mimpi terbesarku menjadi kenyataan. Aku akan menghadapi Lin Dan di putaran berikutnya," kata Paiola.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mimpi yang jadi nyata itu tercipta setelah Paiola mengalahkan David Obernosterer dari Austria 21-14 11-21 24-22. Lin Dan juga lolos ke babak kedua setelah mengalahkan Sattawat Pongnairat dari Amerika Serikat dengan skor 21-8, 21-11.

Ekspresi Paiola anomali. Para pemain lain sih memilih tak berada satu pool dengan Lin Dan. Tentu saja, mereka tak ingin tersingkir dini dari sebuah turnamen.

Tapi Paiola tak gentar. Dia justru sudah menyimpan angan-angan itu begitu lama. Meski dia tahu peluang untuk menang atas 'Super Dan' amat tipis.

"Aku sudah nge-fans Lin Dan sejak mulai berlatih bulutangkis di umur 13 tahun. Hari ini, dengan kemenanganku di babak pertama, aku bisa menuntaskan mimpi keduaku. Pertama aku sudah bertemu dengan Peter Gade, kemudian aku akan menghadapi Lin Dan," beber dia.

Ya, alih-alih berada dalam satu lapangan, Paiola sulit untuk berada dalam satu turnamen dengan, kala itu Gade, dan di masa kini Lin Dan. Jauhnya jarak peringkat kedua pemain menjadikan mereka harus tampil dalam level kejuaraan yang berbeda. Sudah begitu, Paiola tak mudah jika harus mengikuti turnamen di kawasan Eropa atau Asia yang diikuti Lin Dan.

Paiola dan pemain-pemain dari benua Amerika memang belum ada yang cemerlang. Satu nama asli Amerika memang pernah jadi juara dunia, Howard Bach. Tapi, di tahun 2005 itu dia berduet dengan Tony Gunawan, pemain Indonesia yang hijrah ke AS.

Paiola tak sendirian menghadapi situasi seperti itu. Para pebulutangkis dari negara-negara Amerika Selatan dan Amerika Tengah, seperti Brasil, Peru, dan Kuba yang hadir di Istora mengungkapkan curahan hati (curhat) yang serupa. Mereka kesulitan mendapatkan lawan tangguh juga soal minimnya kompetisi. Begitu pula dengan sponsor.

"Tidak ada sponsor, kami hanya didukung Yonex," kata Roberto Mallinedo, pelatih bulutangkis Kuba.

Mallinedo hanya mendampingi satu pemain ke Kejuaraan Dunia ini. Dia Osleni Guerrero yang langsung tersingkir di babak pertama setelah dikalahkan pemain Jerman, Marc Zwiebler 16-21, 13-21.

"Bahkan sulit untuk menemukan lapangan di sana. Turnamen juga sedikit. Makanya peringkat dunia kami juga amat rendah. Jumlah pemain senegara sekitar 40-50 orang," kata Mallinedo.

Tapi, menurut Mallinedo, bulutangkis sudah mulai berkembang di Kuba ketimbang tahun 1994. Setidaknya tiga pelaksanaan Kejuaraan Dunia mereka bisa mengirimkan atletnya. Keberangkatan mereka ke Indonesia mendapatkan bantuan dari pemerintah.

Serupa, ganda putra Peru, Mario Cuba/Martin del Valle, juga merasakan hal yang sama.

"Permainan kami tak berkembang karena olahraga ini tak banyak dikenal. Kami tak punya banyak kompetisi, tidak ada liga hanya kejuaraan nasional setahun sekali," kata Del Valle.

"Inginnya sih berlatih di Asia atau ke Eropa, tapi tidak ada uang. Selama ini kami melatih kemampuan dengan kompetisi-kompetisi yang ada, paling tidak sebulan sekali. Kalau tidak ya lawan sparring partner di tempat latihan.

"Di negara kami, bulutangkis belum bisa jadi sandaran hidup. Saya sudah lulus dari S1 administrasi bisnis, sekarang saya fokus bulutangkis saja tapi kalau umur 25 akan pensiun dan mencari kerja," beber dia.

Setidaknya, sebelum benar-benar pensiun mereka sudah ambil bagian di Kejuaraan Dunia, bertemu pemain top dan bisa menjejak Indonesia.

Menurut mereka indonesia adalah negara bulutangkis. Jadi, karier mereka akan cukup berkesan saat pensiun nanti.

Alex Yuwan Tjong, pebulutangkis dari Brasil lainnya, menyebut Indonesia seperti Brasil dengan sepakbolanya.

"Makanya bisa bertanding di sini cukup menyenangkan," kata Alex yang orang tuanya berasal dari Palembang dan Lombok itu.

(fem/rin)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads