DetikSport Forum: Setahun Menuju Olimpiade

Mendesak, Kebutuhan Psikolog dan Penerapan Sport Science di Cipayung

Mercy Raya - Sport
Rabu, 19 Agu 2015 18:31 WIB
detikSport/Femidiah
Jakarta -

Dibanding China, Indonesia tertinggal dalam saran dan prasarana penunjang pembinaan atlet bulutangkis. Yang dirasa lebih mendesak untuk dibenahi di Indonesia kini adalah soal penerapan sport science dan kebutuhan psikolog.

Prestasi bulutangkis China terus dibanding-bandingkan dengan Indonesia negara karena tersebut tak pernah putus menelurkan atlet berbakat di cabang tepok bulu. Indonesia yang lebih dari satu dekade lalu adalah seteru utama China kini lebih banyak bergelut dengan kegagalan.

Kepala Bindang Pembinaan Prestasi PP PBSI, Rexy Mainaky, menyebut saat ini tidak perlu membandingkan Indonesia dengan negara lain. Dari pada membandingkan dengan China, Indonesia diminta fokus memenuhi beragam kebutuhan atlet yang dirasa masih sangat kurang. Apalagi tak sampai setahun lagi Olimpiade 2016 sudah digelar.

"Saya belum pernah melihat secara keseluruhan di China seperti apa. Tapi di provinsi mereka yang kotanya kecil saja punya fasilitas gedung bulutangkis itu melebih Istora. Kita punya Istora di Jakarta. Tapi china sudah ada di Istora di kabupaten yang hall-nya sangat bagus. Jadi dari situ saja kita sudah kalah. Makanya kembali lagi saya harus berkomunikasi dengan pak Djoko Pekik (pemerintah)," kata Rexy.

Meski terbatas di sana-sini, Indonesia disebutnya masih berlimpah dalam hal talenta yang dimiliki. Sayangnya, talenta saja tidaklah cukup. Dukungan dari pemerintah dalam hal sarana dan prasarana, psikolog, serta sport science menjadi poin penting yang perlu juga diperhatikan oleh pemerintah.

"China memang masih mengandalkan yang itu-itu saja. Ya kita sekarang bagaimana? Indonesia itu punya talenta yang besar. Mestinya harus memaksimalkan sport science. Kami sudah bicara dengan Basri untuk bisa memaksimalkan itu," lanjut dia saat ditemui di sela-sela acara detikSport Forum, di Menara Bank Mega, Jakarta, Rabu (19/8/2015)..

Untuk bulutangkis, sport science diakui Rexy masih tertatih-tatih. Belum lagi dihadapkan pada kenyataan psikolog yang terbatas. Padahal idealnya dibutuhkan psikolog untuk masing-masing nomor.

"Belum lagi soal tuntutan medali emas. Untuk menuju target itu kan butuh dengan mental dan situasi sekarang yang bisa memabut mereka nyaman. Nyaman ini bukan berarti apa, tapi nyaman dengan apa yang mereka mau menunjuang potensi mereka. Dan ini bukan hanya bulutangkis saja, tapi semua cabang," tambahnya kemudian.

"Itupun kita perlu beberapa hal yang mendukung untuk membuat mereka nyaman. Pertama biaya, lalu sport science. Kami saja saat ini sport science sangat tertatih-taih. Psikolog untuk Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan saja sangat susah. Dengan kapasitas pelatnas 66 pemain, tetapi kami hanya punya psikolog satu orang saja. Padahal idealnya semua nomor harus punya psikolog," ungkap Rexy.

"Seperti Linda Wenifanetri ini perlu. Saya yakin dia perlu bekerja keras untuk mendapatkan hasil di World Champion kemarim. Karena ini menunjang persiapan dari segi fisik, otot mereka. Dan, kita tidak usah bandingkan dengan negara lain. Kita saja dengan sendiri dulu, karena kita saja sudah banyak kekurangannya," tuntasnya.

(mcy/din)