detikSport
Follow detikSport Linkedin share
Kamis, 20 Agu 2015 14:55 WIB

Ini Para Pelatih Indonesia yang 'Mudik' Saat Kejuaraan Dunia di Istora

Femi Diah - detikSport
Jakarta - Indonesia 'mengekspor' pelatih-pelatih bulutangkis ke negara lain. Kejuaraan Dunia di Istora kali ini menjadi kesempatan 'mudik' atau sekadar menikmati makanan favorit di Jakarta atau bertemu muka dengan pemain bulutangkis seangkatan mereka.

Kendati Ketua Umum PP PBSI periode 2012/2016, Gita Wirjawan, sudah memulangkan banyak pelatih yang menangani negara lain, masih saja tak sedikit pelatih Indonesia menjadi arsitek di luar negeri. Beberapa yang ditarik ke Jakarta adalah Rexy Mainaky dari Filipina, Edwin Iriawan (India), Imam Tohari (Jepang), dan Eng Hian (Singapura).

Para pelatih yang kini menangani tim-tim negara lain itu tak kalah banyak. Di antaranya, Flandy Limpele di Jepang, Nunung Wibiyanto di Singapura, juga Namrih Suroto di Thailand, dan Rudy Gunawan yang sudah sejak 1999 di Amerika Serikat.

Di antara para pelatih itu hadir di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, bertepatan dengan Kejuaraan Dunia 10-16 Agustus tahun ini. Siapa saja?

1. Namrih Suroto



Namrih Suroto pernah menangani nomor ganda di pelatnas PBSI. Kini, dia menjadi kepala pelatih Granular, Thailand.

Namrih didapuk menjadi pelatih Granular menggantikan pebulutangkis Malaysia, Koo Kien Keat, di bulan Maret tahun ini. Salah satu pemain di klub itu adalah tunggal putra ranking pertama Thailand, Tanongsak Saensomboonsuk.

Selama lima bulan ini, Namrih tak mengalami kesulitan beradaptasi dengan suasana baru di Thailand ataupun dengan para pemainnya. Termasuk makanan tak jadi soal.

"Tapi setengah mati kalau soal bahasa. Apalagi tulisannya beda banget, sedikit repot kan jadinya," kata Namrih kemudian tertawa.

Untungnya, masalah itu tak muncul di pelatnas. Sebab, para pemain Thailand paham bahasa Inggris.

2. Hendrawan



Hendrawan mulai menangani tim nasional bulutangkis Malaysia 2009. Di awal karier bersama Malaysia, dia menangani tim junior tapi kini mendampingi pemain tunggal, Lee Chong Wei.

Hendrawan sempat diminta untuk pulang ke Indonesia di awal masa kepengurusan PP PBSI Gita Wirjawan. Tapi, karena keluarga sudah terlanjur ikut pindah ke Malaysia, Hendrawan menolak ajakan itu.

Kini, di Kejuaraan Dunia yang bergulir di Istora Hendrawan sekaligus mudik bersama istri, Slivie, dan dua anaknya. Mereka menyempatkan untuk pulang ke Pemalang, Jawa Tengah.

"Pulang ke rumah mertua," kata Hendrawan yang juga kakak ipar juara dunia 2015, Hendra Setiawan, itu.

3. Riony Mainaky



Kejuaraan Dunia Bulutangkis sekaligus menjadi arena 'berkumpulnya' keluarga Mainaky. Riony yang datang jauh dari Jepang bisa bertatap muka dengan Rexy dan Richard di Istora.

Rexy dan Richard sudah berada di bawah naungan satu bendera yang sama, Indonesia. Riony masih menjadi pelatih tim nasional Jepang.

Ketiganya pernah hadir di Istora dengan bendera yang berbeda-beda. Richard tak pernah meninggalkan Indonesia. Dia loyal menjadi pelatih ganda campuran di pelatnas PBSI.

Rexy pernah melalang buana sampai ke Inggris dan Malaysia, kemudian hengkang ke Filipina. Dia kemudian diminta pulang saat Gita Wirjawan terpilih menjadi ketua umum PP PBSI periode 2012/2016 untuk menjadi kepala bidang prestasi dan pembinaan PP PBSI.

Riony sudah lama berstatus sebagai pelatih Jepang. Dia menjadi salah satu pelatih yang mendampingi para pemain putra Jepang meraih Piala Thomas tahun 2014.

Sejatinya, masih ada Marlev dan Karel yang juga jadi pelatih. Marlev menjadi asisten pelatih tunggal putra pelatnas, Karel menangani menangani klub Jepang, Renesas.

4. Rudy Gunawan



Rudy Gunawan mendapatkan kesempatan 'pulang' saat mendampingi para pemain Amerika Serikat ke Kejuaraan Dunia di Istora pada 10-16 Agustus di Jakarta. Rudy menyempatkan diri untuk menikmati makanan favoritnya di Jakarta.
 
Rudy tak mempunyai banyak waktu selama di Jakarta. Dia benar-benar mendampingi anak asuhnya, Phillip Chew, Jimie Subandi, dan Sattawat Pongnairat selama kejuaraan.

Sejak awal, Rudy memang tak berniat untuk pulang ke rumah keluarga besar mengingat tugas profesionalnya itu. Setelah para pemain pulang ke AS bertumbangan, di sela-sela kejuaraan Rudy menyempatkan diri untuk mengunjungi tempat makan paling favorit dia.

"Kalau ke Jakarta saya selalu mampir ke bakmi Gajah Mada he he he. Enggak tahu kenapa ya seolah-olah saya harus mampir ke sana. Rasa bakminya selalu bikin kangen," kata Rudy yang sudah sejak 1999 menangani tim AS itu.

Selain itu, dia menyempatkan diri untuk berkumpul dengan pemain-pemain seangkatan di markas Djarum, Petamburan, Jakarta Pusat.

5. Paulus Firman



Paulus Firman menyempatkan untuk berkumpul dengan keluarga pada hari-hari terakhir pelaksanaan Kejuaraan Dunia Bulutangkis pertengahan Agustus ini. Sebab, tak ada libur panjang setelah kejuaraan itu.

Paulus menangani tim nasional Filipina sejak Januari tahun 2014. Setiap mendampingi pemain ke Indonesia, dia menyempatkan untuk kumpul dengan keluarga.

"Saya selalu mendampingi tim lebih dulu, barulah setelah para pemain kembali ke Manila hari Jumat pagi, saya pulang ke rumah," kata mantan pelatih ganda putri pelatnas PBSI (1999-2012) dan pernah menangani di Malaysia (2013).

"Di hari Sabtu manajer tim nasional Filipina yang masih di Jakarta mengundang saya dan keluarga untuk sarapan di hotel. Setelah itu benar-benar waktu saya maksimalkan bersama keluarga, nonton, ke gereja, dan nongkrong. Waktunya sangat pendek, saya lebih memilih berkumpul dengan keluarga," beber dia.

Bersama Filipina, Paulus dikontrak selama dua tahun dengan peninjauan kontrak setahun sekali.





(fem/krs)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksport.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com