Catatan Maria Kristin Yulianti Soal Persaingan Bulutangkis Tunggal Putri Dunia

Catatan Maria Kristin Yulianti Soal Persaingan Bulutangkis Tunggal Putri Dunia

Femi Diah - Sport
Selasa, 25 Agu 2015 11:02 WIB
Catatan Maria Kristin Yulianti Soal Persaingan Bulutangkis Tunggal Putri Dunia
Maria Kristin for detikSport
Kudus -

Zaman sudah berubah dan persaingan bulutangkis di tunggal putri dunia makin sengit. Munculnya Carolina Marin menuntut para pesaing untuk bekerja ekstra keras ke depannya.

Kalau dulu, di masa saya menjadi pemain, kekuatan tunggal putri masih sangat identik dimiliki oleh pemain-pemain China. Setiap kali berjumpa pemain China rasanya langsung hopeless. Pemain China yang manapun.

Kalau sekarang pemain China sudah tak ditakuti lagi. Terlihat sekali dari sorot mata pemain-pemain di luar China yang menghadapi Wang Yihan dkk. Sorot mata mereka menunjukkan kalau tidak ada lagi rasa takut, sebaliknya mereka yakin bisa menang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seiring situasi itu, muncul kekuatan-kekuatan baru. Dan yang paling 'wow' adalah munculnya Carolina Marin.

'Wow' karena dia datang dari Spanyol, negara yang selama ini tak dikenal sebagai kekuatan besar di jagat bulutangkis. Juga 'wow' karena dia mempunyai kecepatan yang luar biasa.

Ya, kecepatan. Secara teknik, permainan Carolina tak jauh beda dengan pemain-pemain top lainnya. Tapi kecepatan dan konsistensi yang ditunjukkannya dari gim pertama dan gim kedua, bahkan ketika harus rubber game, sungguh-sungguh di luar logika.

Para pemain China kuat iya, tapi cepat tidak selalu. Xie Xingfang dan Zhang Ning bahkan tidak secepat itu.

Carolina Marin ini memang gila! Jarang pemain putri yang bisa tampil seperti itu. Saya sampai berpikir kok bisa enggak ada capeknya dia itu.

Bukan tidak mungkin untuk meladeni dia. Tapi, bisa seberapa betah, selama apa, pemain-pemain lawan mampu meladeni dia?

Munculnya Carolina Marin itu benar-benar menjadi sebuah peringatan bagi pemain-pemain Asia dan negara-negara Eropa yang selama ini menjadi kiblat bulutangkis. Carolina sudah menunjukkan sebuah perbedaan signifikan yang menuntut para pemain tunggal putri segera berubah. Segera berbenah kalau tak ingin membiarkan dia tetap jadi juara lagi dan lagi.

Apalagi usia Carolina masih 22 tahun. Kalau yang tain tidak segera berbenah, bisa jadi dia akan awet di puncak dunia. Sekali lagi, dia benar-benar menuntut lawan-lawan untuk memasuki periode baru tunggal putri. Tidak hanya ulet, tapi juga mempunyai kecepatan dan konsistensi.

Kita lihat di Kejuaraan Dunia kemarin, tunggal putri sudah memanggungkan final ideal, tapi pertandingan tidak benar-benar imbang antara Saina Nehwal dan Carolina Marin.

Ini peringatan bagi pemain lain yang akan tampil di Olimpiade. Mumpung waktu masih satu tahun, semestinya para pemain tunggal putri, khususnya Indonesia, bisa mengejar apa yang dimiliki Carolina Marin. Kalau tidak, akan sulit untuk mengalahkan dia.

Faktor X di sebuah kejuaraan besar bisa membantu. Ada saja, kejutan-kejutan pada tiap kejuaraan besar. Bisa jadi itu dikarenakan pemain-pemain bintang mempunyai beban tersendiri untuk meraih medali, tapi bagaimanapun kalau kesiapan masing-masing pemain adalah kuncinya. Ya fisik, ya mental. Kalau sudah siap, main dalam kondisi apapun tak masalah.

Membaca peluang menuju Olimpiade tahun depan di Rio de Janeiro, semua pemain di dunia akan berpatokan kepada Carolina. Pada persaingan di dalam negeri, ini menjadi kesempatan para pemain tunggal putri kita untuk unjuk kemampuan terbaik mereka setahun ke depan.

Anggap saja saat ini ada empat pemain putri kita yang berpeluang ke Olimpiade. Ada Maria Febe Kusumastuti, Adriyanti Firdasari, Linda Wenifanetri, dan Bellaetrix Manuputty.

Di antara empat pemain ini, secara peribadi saya paling suka dengan Bella. Bella memiliki bekal yang komplet. Serangannya oke, defense-nya juga bagus. Dia hanya perlu memperbaiki reaksi dan dalam mengambil setiap keputusan.

Sering kali Bella kehilangan momen karena ragu-ragu dalam mengambil keputusan, mau menyerang atau defense. Kalau sudah setengah-setengah kan malah tidak maksimal.

Padahal kalau bisa memaksimalkan kelebihan itu, Bella bisa memukul bola ke arah manapun yang tentunya bisa menyulitkan lawan. Soal cedera semoga segera pulih dan bisa mengejar poin Olimpiade lagi.

Yang kedua, Linda. Dia menunjukkan perkembangan yang bagus sekali kalau dibandingkan saat tampil di Indonesia Open ke Kejuaraan Dunia.

Satu hal yang paling menarik adalah dia bisa mereduksi kelemahannya, yakni kelebihan berat badan. Tampil lebih langsing, Linda bisa lebih lincah. Tolakan kakinya bisa membuat langkah-langkah dia lebih jauh dalam menjangkau bola.

Soal berat badan ini, ada dua kategori atlet. Pertama, atlet itu tetap lincah dan malah bisa lebih bertenaga saat berat badannya lebih. Kedua, atlet itu justru akan merasa berat dengan badannya sendiri. Nah, Linda masuk kategori kedua.

Satu lagi yang harus diperhatikan untuk Linda, yakni soal cederanya. Dari sudut pandang lain, Linda justru bisa memanfaatkan cedera itu. Asalkan, dia bisa mengalahkan cederanya. Cedera justru bisa keuntungan.

Ya, cedera seharusnya membuat Linda atau pemain siapapun, bisa bermain lebih cerdik. Dengan keterbatasan itu pemain ditantang untuk bisa tampil seefisien mungkin.

Catatan saya, Linda harus bisa menjaga berat badan dan mental bertanding.

Kalau Firda, saya sulit untuk memantaunya. Saya sudah lama tidak melihat permainannya di turnamen. Tapi, dari kontak-kontakan pribadi, dia bilang kalau masih menjalani terapi. Harus dipastikan cederanya seperti apa? Butuh berapa lama lagi untuk bisa pulih?

Tak bisa dimungkiri, Firda mempunyai PR yang lebih besar ketimbang tiga pemain tunggal putri kita lainnya. Selain cedera itu, itu tadi, bulutangkis di tunggal putri sudah menuntut kecepatan yang buat saya sendiri rasanya berat. Beruntung saya sudah pensiun he...he..he... Jadi saya tak perlu menghadapi Carolina. Wah, bisa-bisa saya dibuat pontang-panting kesana kemari.

Yang keempat, Febe. Febe sejatinya mempunyai semua modal yang dibutuhkan pemain kelas dunia. Dengan modal itu, semestinya dia sudah bisa melampuai pencapaian dia saat ini.

Menurut saya, dia hanya perlu bisa mengeluarkan potensi yang dimiliki. Tinggal mau atau tidak. Saat butuh tenaga, malah tenaganya enggak keluar. Saat harus apa, dia tidak bisa mengoptimalkannya. Padahal, di latihan semua itu bisa dilakukannya.

Kembali lagi, soal mental dan kemauan. Masih ada waktu untuk mengasahnya.

Pada gim pertama kita harus bisa segera membaca seperti apa kita harus bermain. Lawan sudah bisa dibaca mau apa. Gim kedua tinggal penerapan. Kalau sudah berlatih maksimal di saat latihan kan tinggal mental di lapangan. Bisa tidak menjaganya tetap konsisten selama di pertandingan.

Waktu masih satu tahun, masih cukup waktu untuk mengejar kecepatan dan konsistensi Carolina.


=====

Maria Kristin Yulianti, peraih perunggu Olimpiade 2008 Beijing sekarang menjadi pelatih di PB Djarum Kudus. Akun twitter: @marselky_25

(fem/din)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads