Banyak cara ditempuh para orang tua untuk membiayai anak-anak mereka mengikuti Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis 2015. Mengendarai sepeda motor ratusan kilometer dari kota asal, bus umum, atau dengan pesawat gratisan menjadi pilihan.
Setelah sampai di Kudus, Mohammad Rizqy Setiaji dan ayahnya, Sudarwaji, bergegas menuju GOR Djarum, Jati, Kudus, Jawa Tengah, Senin (31/8/2015) untuk menyelesaikan proses pendaftaran. Mereka tidak ingin gagal audisi karena hal yang konyol: terlambat daftar.
Dari audisi yang pernah diikuti dua tahun lalu, Sudarwaji mengingat antrean pendaftaran bakal panjang. Bisa jadi mereka bakal membutuhkan waktu dua sampai tiga jam untuk menunggu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami memang sudah merencanakan untuk langsung ke GOR karena mengantisipasi antrean bakal panjang. Kalau sudah beres di sini, cari kos-kosan 'kan bisa tanya ke satpam atau orang di Djarum," kata Sudarwaji kepada detikSport, Selasa (1/9/2015).
Informasi kos-kosan dimanfaatkan dengan baik oleh Sudarwaji. Setelah pendaftaran selesai mereka bergegas menuju pondokan yang uang sewanya Rp 50.000 per malam.
Mereka sudah ingin beristirahat, mondok di kamar sebuah kos-kosan yang baru jadi. Kakinya masih pegal tak ketulungan.
"Kaki gemetar saat sampai di sini. Bawaan berat juga kan, karena harus bawa dua tas. Satu tas pakaian, satu lagi tas raket," kata Rizqy.
Kaki gemetaran dan pundak yang pegal itu bukan tanpa alasan. Bapak anak itu mengendarai sepada motor dari Tegal ke Kudus.
"Ini demi pengiritan dan saya rasa lebih simpel. Soalnya kantong sedang benar-benar cekak. Anaknya mau ya sudah. Lagipula kami tak perlu bingung-bingung cari kendaraan lagi di dalam kota," kata Sudarwaji.
Menurut Sudarwaji, mereka hanya menghabiskan Rp 80.000 untuk sekali jalan, dengan perincian Rp 60 ribu untuk bensin, Rp 20 ribu untuk makan di jalan.
"Kami sempat beristirahat satu kali, di Kendal," ucap dia.
Dari perhitungan Sudarwaji, biaya pulang tak akan jauh beda. Dengan sepeda motor, transportasi juga tak akan banyak makan biaya selama operasional di Kudus. Alokasi dana terbesar dianggarkan untuk penginapan. Satu malam Rp 50 ribu. Sekali makan untuk berdua, pria yang juga guru sekolah dasar itu menganggarkan Rp 20 ribu untuk sekali akan buat dua orang.
"Total sekitar 1 jutaan lah selama di sini. Bagaimanapun menghitungnya harus satu minggu bukan," ujar dia.
Peserta dari Tegal lainnya, Dhiyaa Vibian Ashar, sedikit lebih nyaman. Ayahnya, Arif Supriyatno, menyewa mobil untuk pulang-pergi Tegal Kudus dan operasional di Kudus.
"Pengeluaran lumayan, coba dihitung sewa mobil per harinya Rp 300 ribu, belum BBM. Ditambah uang makan dan pengianpan. Penginapan yang murah saja, Rp 50 ribu per malam," kata Arif.
Kudus menjadi kota kedua Dhiyaa untuk audisi tahun ini. Sebelumnya dia mencoba peruntungan di Purwokerto.
"Waktu itu saya sudah rental mobil. Memang mahal tapi lebih praktis. Lagipula kan hanya tiga hari waktu itu," jelas dia.
Pengalaman Nur Fauziah yang mendampingi Dhefa A.F. yang mengikuti audisi di U-15 berbeda lagi. Mereka memilih naik bus dari Jakarta menuju Kudus. Sekali jalan, tiket bus seharga Rp 550 ribu untuk dua orang.
Nur memilih untuk menginap di hotel bertarif Rp 250 ribu per malam. Dalam sehari, dia menganggarkan Rp 200 ribu untuk makan, untuk dia dan putranya.
"Untuk pegangan saya bawa Rp 5 juta. Kalau kurang saya minta transfer lagi. Apapun kami lakukan untuk anak biar lolos ke klub idaman," kata Nur.
Lain lagi penglaaman Hasan Samiun dan putranya, Muhammad Maslakil Akmal. Meski dari Papua, biaya transportasi tak bikin pusing, Hasan memanfaatkan jatah tiket gratis dari tempatnya bekerja, PT Freeport.
"Anggaran untuk transportasi hanya dari Solo ke Kudus. Tiket gratis kan cuma ada untuk penerbangan dari Papua ke Yogyakarta. Kebetulan ada saudara di Solo, kami mampir dulu, baru kemarin," beber dia.
Bahkan, jika Akmal lolos pun dia tak akan berat untuk menengok ke Kudus. "Ada tiket gratis 'kan," ujar dia.
Perjuangan memang butuh pengorbanan -- demi kecintaan anak-anak mereka pada bulutangkis.
(fem/a2s)










































