Sektor Tunggal Bulutangkis Indonesia Butuh Sosok Panutan

Sektor Tunggal Bulutangkis Indonesia Butuh Sosok Panutan

Femi Diah - Sport
Jumat, 04 Sep 2015 21:08 WIB
Sektor Tunggal Bulutangkis Indonesia Butuh Sosok Panutan
Getty Images/Syamsul Bahri Muhammad
Kudus -

Sudah cukup lama sektor tunggal Indonesia kalah pamor dari sektor ganda. Tak adanya figur pemain yang bisa jadi panutan ditengarai sebagai alasan.

Di tahun-tahun belakangan ini, sektor ganda terus-menerus menjadi tumpuan dalam turnamen-turnamen internasional. Nomor tunggal, baik putra maupun putri, cukup jadi anak bawang. Utamanya pada turnamen-turnamen penting, seperti Kejuaraan Dunia, All England, atau Indonesia Open. Menghadapi ajang beregu, kekuatan Indonesia juga seakan bolong pada nomor tunggal.

Situasi saat ini memberikan harapan dengan munculnya tunggal-tunggal putra muda yang cukup menjanjikan. Jonatan Christie, Firman Abdul Kholik, Ihsan Maulana Mustofa, dan Anthony Ginting di antaranya. Kondisi tunggal putri sedikit lebih terang dengan adanya Linda Wenifanetri meraih perunggu di Kejuaraan Dunia. Dia hanya perlu meningkatkan kemampuan dan konsistensi penampilan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut koordinator pemandu bakat audisi PB Djarum, Christian Hadinata, menyebut perbedaan besar amosfer pada tunggal dan ganda itu dipengaruhi kehadiran sosok panutan.

Nomor ganda relatif lebih mudah melakukan regenerasi karena masih memiliki figur yang jadi acuan para pemain muda di pelatnas. Sudah harus menerima kehilangan Taufik Hidayat serta Susi Susanti dan Mia Audina, sektor tunggal belum juga bsia mengorbitkan penerusnya sampai sekarang.

"Kita harus memiliki figur pemain yang mempunyai prestasi bagus sebagai menjadi panutan. Pada sektor ganda putra saat ini, Hendra Setiawan dan Mohammad Ahsan menjadi panutan bagi pasangan ganda putra lainnya," kata Christian.

"Begitu juga pada nomor ganda campuran, Indonesia memiliki Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir yang menjadi figur. Ganda putri sudah mempunyai Greysia Polii dan Nitya Krishinda Maheswari baru-baru ini. Mereka bisa menjadi figur yang memberi motivasi serta membimbing adik-adiknya."

"Untuk tunggal putra dan putri, siapa yang jadi figur sentral di sana? Pemain tidak hanya bermain untuk diri sendiri tetapi juga membina generasi berikutnya karena mereka tidak akan main terus menerus. Dulu kita punya Susi Susanti dan Mia Audina. Lalu sektor putra, ada Rudy Hartono, Liem Swie King, Haryanto Arbi, Alan Budikusuma, dan Taufik Hidayat. Tunggal putra dan putri saya lihat sampai saat ini tidak ada," tutur dia.

Pendapat Christian itu diperkuat pemain tunggal putra, Dionysius Hayom Rumbaka. Merasa belum mempunyai pengalaman panjang dan kemampuan yang mumpuni, dia tak bisa segera beradaptasi untuk mengemban tugas sebagai tunggal pertama.

"Saat saya masuk Pelatnas PBSI, kondisi waktu itu Mas Sony (Dwi Kuncoro) dan Simon (Santoso) sedang sakit. Dengan pengalaman belum banyak, saya belum siap menjadi yang utama. Itu membuat saya merasa terbebani. Saya belum siap. Dari situ say abisa simpulkan bagaimanapun pemain muda membutuhkan pemain senior sebagai acuan harus sekeras apa dalam berlatih," kata Hayom.

"Selain itu, kalau ada pemain nasional yang lebih hebat, bukankah itu bagus untuk lawan latih tanding? Tapi, bagaimanapun memang individu masing-masing lebih menentukan," ujar pemain nomor 20 dunia itu.



(fem/roz)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads