Perjalanan PB Djarum: Dari Barak Rokok menjadi Hall 16 Lapangan

Femi Diah - Sport
Sabtu, 05 Sep 2015 11:41 WIB
detikSport/Femi Diah
Kudus -

Perjalanan PB Djarum dimulai dengan munculnya bocah berbakat dari Kudus, Liem Swie King dan Hastomo Arbi. Dalam perjalanannya, klub itu mempunyai markas sendiri dan menjadi klub bulutangkis raksasa di tanah air.

Munculnya Liem Swie King dalam Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis 2015 membuka cerita lama soal cikal bakal PB Djarum. Program Director Bakti Olahraga Djarum Fundation, Yoppy Rosimin, menyebut Liem Swie King adalah sosok sentral berdirinya PB Djarum Kudus.

Ketika para pelinting rokok pulang, salah satu barak di Jalan Bitingan Lama, Kudus, Jawa Tengah 'disulap' menjadi lapangan bulutangkis. Karyawan pabrik rokok itu memanfaatkan gedung tersebut sebagai tempat untuk menyalurkan hobi bermain bulutangkis.

Suatu ketika di tahun 1960-an, gedung itu tak hanya menampung karyawan. Ada tiga bocah yang ikut berlatih di sana. Dua di antaranya Liem Swie King dan Hastomo Arbi.

"Dulu kami latihan di gedung lama, di Jalan Bitingan Lama. Setiap sore kami harus menyingkirkan alat-alat untuk bikin rokok itu. Bau ruangan juga sangat menyengat, bau cengkeh, bau tembakau. Biasanya mulai pukul 18.30 sampai jam 21.00. Setelah latihan selesai kami kembalikan lagi alat-alat itu ke tempatnya," kata Hastomo.

"Kami dulu dilatih langsung oleh Pak Budi Hartono. Waktu itu latihannya sederhana saja, eh ternyata latihan itu benar lho. Jam 16.00 latihan fisik dulu, yang paling umum lari," ucap kakak Haryanto Arbi itu.

Adanya dua pemain itu berlatih bersama-sama karyawan itu menjadi tonggak berdirinya PB Djarum yang jadi kekuatan raksasa bulutangkis tanah air saat ini. Liem Swie King yang menunjukkan prestasi bagus di kancah nasional membuat Budi Hartono, pemilik PT Djarum mulai berniat serius membina atlet muda. Hastomo yang sempat bergabung kemudian lepas dari Djarum, direkrut lagi. Pemain-pemain muda mulai ditarik untuk bergabung. Pelatih didatangkan. Tapi, Djarum tak menyediakan asrama, para pemain kos di sekitar barak di jalan Bitingan Lama itu.

Latihan di barak Jalan Bitingan Lama itu berlangsung hingga 1982. Pusat latihan POR Djarum dipindah ke GOR Kaliputu yang juga ada di Kudus. Saat itu Djarum bukan hanya membina bulutangkis, tapi juga jadi pusat pelatihan bridge, tenis, tenis meja, sepakbola, dan voli.

GOR Kaliputu dibangun khusus untuk pusat pelatihan bulutangkis. Ada 10 lapangan dan asrama pemain. Dari Kaliputu itu lahir pemain-pemain bintang seperti Hariyanto Arbi, Denny Kantono, dan Sigit Budiarto.

Dalam perjalanannya, prestasi bulutangkis mulai tak konsisten di tahun 2000. Petinggi Djarum, Victor Hartono, menggagas untuk membuat GOR baru yang lebih luas dengan fasilitas yang lebih komplet.

GOR itu kemudian dibangun di atas tanah 4 hektar di Jalan Jati, Kudus. Selain hall dengan 16 lapangan, asrama berkapasitas 80 atlet serta rumah untuk pelatih, GOR itu juga memiliki kantor dan perpustakaan, ruang latihan beban, ruang pijat, dan fisioterapi. Asrama juga dilengkapi ruang makan dan dapur. Untuk mengatur menu bagi para atlet itu disediakan dokter gizi.

Menurut Edy Prayitno, ketua bagian administrasi GOR Djarum, menyebut saat ini ada 77 atlet menghuni asrama tersebut, masing-masing 43 putra dan 34 putri.

Sekali waktu, GOR itu juga digunakan untuk kegiatan di luar para pemain Djarum. Tahun 2014, PBSI memanfaatkan PB Djarum sebagai lokasi karantina menjelang Piala Thomas Uber.

Rencananya 7-11 Oktober tahun ini, GOR Djarum juga bakal jadi perhelatan Kejuaraan Asia U-15 dan U-17.

GOR itu kini menanti kelahiran bintang-bintang dunia. Semoga ada kado terindah di tahun depan, saat GOR tepat berusia 10 tahun.

"Dulu fasilitas seadanya saja juara melulu, sekarang dengan fasilitas yang lebih bagus semestinya juara lebih banyak dicetak," kata Liem Swie King.

(fem/mfi)