Dua Pasang Kakak Beradik Beda Nasib di Grand Final Audisi Djarum

Dua Pasang Kakak Beradik Beda Nasib di Grand Final Audisi Djarum

Femi Diah - Sport
Sabtu, 05 Sep 2015 19:20 WIB
Dua Pasang Kakak Beradik Beda Nasib di Grand Final Audisi Djarum
detikSport/Femi Diah
Kudus - Perasaan peserta audisi Djarum Beasiswa Bulutangkis 2015 terus diaduk-aduk. Tangis duka dan gembira kembali mewarnai GOR Djarum di Kudus saat barisan pelatih mengumumkan mereka yang lolos ke babak kedua grand final. Termasuk dua pasang kakak beradik beda nasib ini.

Sebanyak 62 dari 131 peserta dinyatakan lolos dari babak pertama grand final, Sabtu (5/9/2015). Tempat di PB Djarum Kudus belum benar-benar aman. Mereka masih ditunggu ujian selanjutnya berupa tes fisik besok dan akan berlanjut dengan karantina.

Tapi, setidaknya lolos ke babak kedua grand final cukup melegakan. Mereka sudah makin dekat untuk jadi anggota PB Djarum.

Tak mengherankan jika tangis gembira dan duka bercampur aduk di GOR Djarum siang ini. Kakak beradik Muhammad Nur Iqram dan Nurul Izmi Aprilia gembira karena lolos ke babak kedua besok.

Iqram sudah menarik perhatian karena dia menangis saat senar raketnya putus di tengah pertandingan. Tangis itu berubah menjadi kegembiraan kali ini.

"Saya tidak menyangka bisa lolos terus. Saya makin senang dengan adik saya yang juga lolos. Besok masih ada tes, saya jaga kondisi saja, istirahat," kata Iqram.

Rupanya ada kisah menarik selain senar raket yang putus dan nasihat Christian Hadinata yang mewarnai perjalanan Iqram di Kudus itu. Perjalanan Iqram dan keluarganya menuju Kudus penuh perjuangan.

Iqram dan Nurul, serta kedua orang tua mereka, Ishak Rusli dan Salawati, tiba di Kudus pada Selasa (1/9/2015). Mereka datang jauh-jauh hari dengan memperhitungkan waktu tempuh dari Makassar ke Kudus yang kurang bisa diprediksi secara tepat.

Mereka naik kapal selama dua hari satu malam plus perjalanan darat dari Surabaya sekitar enam jam. Ya, pilihan moda itu demi meminimalkan pengeluaran.

"Ini saja pakai pinjam uang ke tetangga Rp 2 juta. Beruntung ada subsidi per peserta Rp 2 juta dari Djarum buat peserta di luar Jawa. Dua anak dapat Rp 4 juta. Untuk perjalanan dan penginapan tidak cukup kalau naik pesawat. Kami milih naik kapal meski perjalanan lebih lama," kata Ishak yang seorang sopir taxi.
Β 
Nurul yang baru pertama kali naik kapal menikmati saja perjalanan itu. Meski dia tak doyan makanan yang disediakan di kapal dan merasa pusing setelah turun dari kapal.

"Cukup melelahkan. Saat turun dari kapal terasa masing goyang-goyang. Tapi enggak mabuk kok," kata Nurul.



Nasib berbeda dialami kakak beradik dari Pekanbaru, Rahmat Yulio Rafli dan Rahma Novita Febi. Rahmat lolos, tapi Rahma tidak.

Rahmat membatasi perayaan keberhasilan itu. Dia tak tega melihat adiknya yang menangis sedih. Juga ibunya yang turut menitikkan air mata.

Kesedihan itu memang tak bisa dihindarkan. Apalagi mereka sudah berjuang bersama-sama sejak audisi di Medan.

"Tadi saya hibur. Saya juga bilang masih ada waktu, berlatih lebih keras lagi," kata Rahmat.

Lagipula, Rahmat belum mau bersenang-senang. Sebab masih ada seleksi lanjutan, tes fisik besok dan karantina selama sepekan.

"Besok berusaha semaksimal mungkin saja. Semoga mendapatkan hasil terbaik," kata Rahmat.

(fem/mfi)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads