Sepekan ke depan, 46 peserta audisi akan melakoni karantina di GOR Djarum, Jati, Kudus, Jawa Tengah. Proses itu sebagai tahap terakhir penilaian dalam audisi umum setelah grand final dijalani.
Para peserta terus diuji mentalnya lewat tahapan-tahapan ujian teknik dalam tiga sampai empat pertandingan plus permintaan-permintaan pelatih. Kemudian berlanjut dengan tes fisik lewat beep test. Total selama tiga hari, emosi mereka terus diaduk-aduk dengan adanya pengumuman eliminasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para peserta bakal melakoni aktivitas yang serupa dengan para pemain Djarum sejak buka mata sampai tidur lagi. Tinggal di asrama, berlatih bersama pelatih masing-masing kelompok umur, sampai makan pagi, siang dan malam bersama-sama.
Selain atmosfer yang hampir sama dengan para pemain PB Djarum, satu yang akan amat berbeda adalah ketidakhadiran orang tua selama karantina.
"Biasanya pemain yang masuk dinilai idealnya tiga bulan, tapi kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk menilai mereka dalam satu minggu karantina," kata kepala pelatih PB Djarum Fung Permadi.
Berkaca kepada pengalamannya pelatih tunggal putri U-13, Maria Kristin Yulianti, menyebut ada saja hal-hal menggelikan yang dilakukan anak didiknya di hari-hari pertama jauh dari orang tua. Dari manja saat latihan, sampai sulit untuk menghabiskan makanan yang sudah dijatah oleh koki klub.
"Banyak ya, banyak sekali hal-hal lucu yang muncul di hari-hari pertama mereka terutama anak-anak U-13. Dari ingin pulang di hari-hari awal, susah untuk diajak latihan, sampai mencoba-coba untuk menyembunyikan makanan yang dia enggak doyan," kata Maria.
Bagaimana polah anak-anak dalam karantina di audisi kali ini? Seminggu ke depan akan terlihat seperti apa.
(fem/din)










































