Pencurian umur jadi masalah besar di banyak turnamen yang diperuntukkan bagi kelompok umur tertentu. Di Badminton Asia U-17 & U-15 Junior Championship, pihak penyelenggara pun mengawasi hal tersebut.
Tak terkecuali dari induk cabang bulutangkis, PP PBSI. Mereka tak ingin kecolongan karena bibit-bibit muda ini merupakan cikal bakal atlet yang nantinya diharapkan menjadi tulang punggung Indonesia di pentas dunia.
"Pastinya kalau ada pertandingan kategori kelompok umur pasti kita akan lakukan screening preview dulu. Jadi tim keabsahan yang memastikan bahwa semua peserta bisa sesuai dengan kategorinya. Kalau di turnamen kali ini paspor menjadi acuannya," kata Wasekjen PP PBSI Ahmad Budiharto, dalam jumpa pers yang digelar di Kudus, Senin (6/10/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
PBSI sendiri tidak main-main dalam hal pencurian umur. Saat mereka merekrut pemain muda, PBSI mengantisipasinya dengan tak hanya menyelekssi pemain ke pelatnas lewat dokumen kelahiran, tapi juga cek gigi dan tulang. Salah satu kejuaraan Yonex-Sunrise Doubles pun pernah menerapkan hal yang sama. Bedanya para pemain diperiksa ulang ketika sudah memastikan diri melaju ke partai semifinal dan final.
Tapi hal itu ternyata tak disetujui oleh Program Director Djarum Foundation, Yoppy Rosimin. Menurutnya, dengan pengecekan gigi, darah, atau tulang kepada pemain muda, justru akan mempengaruhi psikologis mereka.
"Saya kira tidak perlu sepeti itu karena secara psikis itu akan mempengaruhi kepada pemain. Kalau mau justru sebelum kejuaraan ada kan hal itu. Jadi bukan di tengah-tengah kejuaraan atau setelah menjadi juara. DI BAC (Konfederasi Bulutangkis Asia) juga tidak ada seperti itu. Jadi kalau sudah screening di depan, begitu lolos. Ya sudah, berarti si atlet ini otomatis lolos."
"Kalaupun akhirnya belakangan ketahuan, ya silakan dibuktikan. Di luar banyak rumor seperti itu. Kami pusing seperti itu. Kalau memang ada indikasi ke sana, silakan bandingkan dengan akte pembanding. Jangan asal tuduh. Itu kan tidak baik. Kalau mau protes justru bicara di data, dengan data pembanding. Itu jelas dan bisa ditindaklanjuti," ungkap Yoppy.
(mcy/din)











































