Serena memilih untuk absen di China Terbuka dan WTA Finals. Turnamen terakhir yang dia ikuti adalah Grand Slam Amerika Serikat Terbuka, di mana dia terhenti di babak semifinal setelah kalah dari Roberta Vinci, bulan September silam.
Pelatih Serena, Patrick Mouratoglou, mengungkapkan bahwa anak asuhnya sangat terpukul setelah gagal jadi juara di AS Terbuka. Serena bahkan tidak bicara kepada Mouratoglou selama lebih dari dua pekan setelah turnamen itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dia melakukan segalanya dengan 100% hatinya. Jadi, Anda lebih kecewa ketika Anda tidak mencapai target Anda. Selain itu, dia punya level ekspektasi yang jauh lebih tinggi daripada siapa pun," tambahnya.
Selain persoalan di atas, Serena juga memilih beristirahat demi menghindari cedera lutut parah seperti yang dulu pernah dialami oleh Rafael Nadal.
"Dia punya memar di tulangnya dan jika Anda terus bermain dengan kondisi ini dalam waktu yang terlalu lama, terlalu banyak, hal yang terjadi berikutnya adalah keretakan," ujar Mouratoglou.
"Tidak ada pilihan lainnya dan kami tahu bahwa di suatu titik kami harus melakukan ini karena dia bermain dengan rasa sakit sepanjang waktu. Cederanya bisa benar-benar memburuk dan di usia dia, kariernya bisa benar-benar dalam bahaya jika dia mendapat lebih banyak cedera, seperti yang dialami Rafa di masa lalu," terangnya.
"Dia (Nadal) terus bermain dengan masalah yang sama dan kemudian itu memburuk dan dia harus berhenti nyaris setahun. Kami tidak ingin ini terjadi. Dia (Serena) sudah 34 tahun. Jika dia harus berhenti setahun maka itu akan sangat buruk untuk masa depannya," kata Mouratoglou.
(mfi/mrp)











































